<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://ruangdosen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangdosen.wordpress.com</link>
	<description>Scripta Manent Verba Volant</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 04:25:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ruangdosen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5db30f35fe241aab23eccddad6d2d7c8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kekuatan Jejaring Sosial</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/11/16/kekuatan-jejaring-sosial/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/11/16/kekuatan-jejaring-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 04:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Situs pertemanan atau jejaring sosial menjadi semakin populer. Ini tak lepas dari kekuatan ranah maya yang mampu memobilisasi massa dan mempengaruhi dunia nyata. Sebut saja penggalangan dukungan Facebookers untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Melalui grup ”Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah &#38; Bibit Samad Rianto”, dalam hitungan hari pendukungnya mencapai sejuta lebih. Gerakan yang sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=302&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-304" title="jejaring" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/11/jejaring.jpg?w=217&#038;h=163" alt="jejaring" width="217" height="163" />Situs pertemanan atau jejaring sosial menjadi semakin populer. Ini tak lepas dari kekuatan ranah maya yang mampu memobilisasi massa dan mempengaruhi dunia nyata. Sebut saja penggalangan dukungan Facebookers untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Melalui grup ”Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah &amp; Bibit Samad Rianto”, dalam hitungan hari pendukungnya mencapai sejuta lebih. Gerakan yang sama sebelumnya dibuat untuk mendukung Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang ditahan karena berseteru dengan rumah sakit.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-302"></span>Dalam ensiklopedia online Wikipedia, jejaring sosial atau jaringan sosial disebut sebagai suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lain-lain. </p>
<p>Penelitian dalam berbagai bidang akademik telah menunjukkan bahwa jaringan sosial beroperasi pada banyak tingkatan. Mulai dari keluarga hingga negara, dan memegang peranan penting dalam menentukan cara memecahkan masalah, menjalankan organisasi, serta derajat keberhasilan individu dalam mencapai tujuannya.</p>
<p>Saat ini membentuk jejaring sosial bukan perkara sulit. Sebab melalui internet, semua orang di belahan bumi manapun dapat berkomunikasi tanpa sekat ruang dan waktu. Persis seperti ramalan Marshall McLuhan dalam Understanding Media: Extension of A Man pada awal tahun 60-an lalu, perkembangan teknologi komunikasi akan menjadikan dunia sebagai sebuah desa global (global village). Terbentuk dari penyebaran informasi yang sangat cepat dan masif di masyarakat, serta sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang.</p>
<p>Kini hal itu sudah terbukti. Global village menjelaskan bahwa tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat, menggunakan teknologi internet. McLuhan saat itu meramalkan pada saatnya nanti, manusia akan sangat tergantung pada teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi. </p>
<p>Kenyataan tersebut tidak dapat diingkari lagi. Bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, saat berkompetisi menjadi orang nomor satu di negeri itu, telah memanfaatkan internet untuk menjaring pendukung. Sehingga ia dinilai telah memindahkan politik kepresidenan masuk ke abad digital. Barack Obama memiliki situs jejaring sosial yang populer, tercatat antara lain Facebook, Twitter, My Space, Linkedin, Friendster hingga You Tube.</p>
<p>Hasilnya? Meski belum ada penelitian resmi berapa persen sumbangan suara yang didapat dari kampanye via jejaring sosial tersebut, Barack Obama kini sudah menempati Gedung Putih. Begitu juga “advokasi” para Facebookers terhadap Prita dan Candra-Bibit yang membuat mereka mendapat penangguhan penahanan. </p>
<p>Kekuatan jejaring sosial tidak hanya dalam hal dukung mendukung, tapi juga sudah masuk ke berbagai dimensi kehidupan. Mulai dari mencari teman yang tidak ketemu selama puluhan tahun, hingga mencari barang hilang. Tengok saja beberapa judul berita di media massa yang melibatkan situs jejaring sosial berikut: Pemilik Kamera Ditemukan Lewat FB, Facebook Gagalkan Anak Bunuh Diri, Facebook Bantu Tangkap Perampok dan masih banyak lagi.</p>
<p>Parlemen Online<br />
Melihat kekuatan jejaring sosial tersebut, tak heran kalau kemudian muncul istilah parlemen online. Bahkan menurut peneliti LIPI, Jaleswari Pramodhawardani, parlemen online berhasil menjalankan fungsi parlemen sebenarnya di Senayan. Setidaknya kasus Prita versus Rumah Sakit Omni dan KPK versus Polri, yang mereka usung, ikut memengaruhi kebijakan publik yang diputuskan kemudian (Kompas, Jumat, 6 November 2009)</p>
<p>Demonstrasi model online diperkuat parlemen jalanan, akan menjadi kekuatan besar. Bahkan mampu melebihi peran parlemen sebenarnya, yang kurang responsif melihat berbagai persoalan sensitif di mata publik. Berkembangnya parlemen online ini menandakan komunikasi rakyat mempunyai bargaining position kuat di negara demokrasi. Maka vok populi vok dei menjadi bermakna setelah dunia menjadi global village.</p>
<p>Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Pimred Vivanews Karaniya Dharmasaputra di blognya menulis: “Sejumlah pengamat politik dan media meyakini gelombang pesan di Twitter&#8211;yang cuma 140 karakter itu&#8211;ternyata telah memainkan peran penting dalam mengobarkan revolusi!”. Fenomena itu antara lain telah terjadi di Moldova, negara kecil eks Uni Soviet di tenggara Eropa.</p>
<p>Pada awal April 2009 lalu, para pemrotes yang sebagian besar anak muda memanfaatkan Twitter, Facebook, dan SMS untuk mengorganisir demonstrasi anti komunis. Sekitar 20 ribu orang turun ke jalan, berdemo di depan istana Presiden Vladimir Voronin, dan bahkan menduduki gedung parlemen di Chisinau, ibu kota Moldova. </p>
<p>Saking takutnya, pemerintah akan metoda baru revolusi ini, di hari itu jaringan internet di Chisinau tiba-tiba putus di tengah kerusuhan. Natalia Morar si pemimpin &#8220;Revolusi Twitter&#8221; ini, awalnya hanya berharap pesan yang dikirimnya melalui Twitter akan mengumpulkan ratusan orang saja. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membelalakkan mata. </p>
<p>Semakin kuatnya jejaring sosial di dunia maya ini, tak lepas dari perkembangan teknologi world wide web yang melangkah ke era Web 2.0. Dimana teknologi internet menjadi mudah diakses (open source) dan memungkinkan semua pengguna saling memberi masukan (komunikasi dua arah). Sehingga terjadilah demokratisasi dalam dunia digital.</p>
<p>Tak heran kalau kemudian seorang citizen journalist menulis gagasan radikal di sebuah portal berita, membentuk Dewan Perwakilan Facebookers (DPF). Alasannya, dunia maya kini sudah tidak lagi berada di awang-awang. Tapi sudah menjadi gerakan pragmatis yang bisa mengubah nasib orang, mengubah konstalasi politik, atau bisa saja suatu saat akan mengubah wajah dunia.</p>
<p>Melihat realitas yang terjadi akibat pengaruh jejaring sosial, kekuatan ini tidak bisa dianggap remeh. Apalagi saat ini informasi dan komunikasi sangat terbuka. Begitu juga peran media massa dalam mentransformasi pesan dari jejaring sosial ke khalayak yang lebih luas. Maka situs jejaring sosial bukan cuma untuk berbagi urusan cinta dan sambal belacan. Lebih dari itu, jejaring sosial telah merevolusi komunikasi antarmanusia, bahkan komunikasi politik. (*)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=302&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/11/16/kekuatan-jejaring-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/11/jejaring.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jejaring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Komunikasi dalam Menjawab Tantangan Globalisasi</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/10/28/peran-komunikasi-dalam-menjawab-tantangan-globalisasi/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/10/28/peran-komunikasi-dalam-menjawab-tantangan-globalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 02:47:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Globalisasi yang membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain tak bisa dilepaskan dari perkembangan information and communication technology (ICT). Kondisi ini menjadi peluang dan tantangan baru bagi akademisi dan praktisi yang berkecimpung dalam disiplin ilmu komunikasi. Sebab globalisasi komunikasi memunculkan tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=256&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-298" title="global" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/global.jpg?w=156&#038;h=166" alt="global" width="156" height="166" />Globalisasi yang membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain tak bisa dilepaskan dari perkembangan <em>information and communication technology</em> (ICT). Kondisi ini menjadi peluang dan tantangan baru bagi akademisi dan praktisi yang berkecimpung dalam disiplin ilmu komunikasi. Sebab globalisasi komunikasi memunculkan tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-256"></span>Slide 1</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-257" title="Slide1" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide1.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide1" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 2</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-259" title="Slide2" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide2.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide2" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 3</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-260" title="Slide3" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide3.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide3" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 4</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-267" title="Slide4" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide41.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide4" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 5</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-269" title="Slide5" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide51.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide5" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 6</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-271" title="Slide6" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide61.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide6" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 7</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-274" title="Slide7" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide7.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide7" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 8</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-276" title="Slide8" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide8.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide8" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Slide 9</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-278" title="Slide9" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide9.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide9" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 10</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-280" title="Slide10" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide10.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide10" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 11</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-282" title="Slide11" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide11.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide11" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 12</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-285" title="Slide12" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide12.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide12" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 13</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-287" title="Slide13" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide13.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide13" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 14</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-289" title="Slide14" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide14.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide14" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 15</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-291" title="Slide15" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide15.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide15" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 16</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-293" title="Slide16" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide16.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide16" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 17</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-295" title="Slide17" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide17.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide17" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">Slide 18</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-296" title="Slide18" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide18.jpg?w=600&#038;h=450" alt="Slide18" width="600" height="450" /></p>
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=256&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/10/28/peran-komunikasi-dalam-menjawab-tantangan-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/global.jpg?w=281" medium="image">
			<media:title type="html">global</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide41.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide51.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide61.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide15.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide15</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide16.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide16</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide17.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide17</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/slide18.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slide18</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedaulatan Pangan, Kedaulatan Bangsa</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/10/21/kedaulatan-pangan-kedaulatan-bangsa/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/10/21/kedaulatan-pangan-kedaulatan-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 08:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/2009/10/21/kedaulatan-pangan-kedaulatan-bangsa/</guid>
		<description><![CDATA[(Catatan Hari Pangan Sedunia 2009)
Tanggal 16 Oktober 1945 yang merupakan hari berdirinya Food and Agriculture Organization (FAO), ditetapkan sebagai Hari Pangan Sedunia (HPS). Penetapan 16 Oktober sebagai HPS bermula dari konferensi ke-20 FAO pada November 1976 di Roma dengan mengeluarkan Resolusi Nomor 179 mengenai World Food Day. Resolusi disepakati 147 negara anggota, termasuk Indonesia. Tujuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=251&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-250" title="tani" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/tani.jpg?w=182&#038;h=177" alt="tani" width="182" height="177" /><strong><span style="color:#339966;">(Catatan Hari Pangan Sedunia 2009)</span></strong><br />
Tanggal 16 Oktober 1945 yang merupakan hari berdirinya Food and Agriculture Organization (FAO), ditetapkan sebagai Hari Pangan Sedunia (HPS). Penetapan 16 Oktober sebagai HPS bermula dari konferensi ke-20 FAO pada November 1976 di Roma dengan mengeluarkan Resolusi Nomor 179 mengenai World Food Day. Resolusi disepakati 147 negara anggota, termasuk Indonesia. Tujuan peringatan HPS adalah meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik di tingkat global, regional, maupun nasional.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-251"></span>HPS yang diperingati setiap tahun ini memancing tumbuhnya kesadaran terhadap pengelolaan potensi sumber daya alam serta tantangannya untuk mewujudkan ketahanan pangan. Sehingga menyiratkan pesan sumber daya alam harus diolah untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat agar terhindar dari krisis pangan. Termasuk pengembangan, pengolahan dan pemasaran sumber pangan lokal untuk ketahanan pangan daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Harus diakui, ketahanan pangan nasional saat ini memang masih jauh dari harapan. Hal tersebut tercermin dari belum lepasnya Indonesia dari ketergantungan impor komoditas pangan. Meskipun untuk komoditas tertentu seperti beras, pemerintah mengaku sudah surplus. Tapi banyak kalangan menilai, masih belum aman untuk menjamin ketahanan pangan Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengutip pernyataan mantan Presiden RI Soekarno, hidup matinya suatu bangsa ditentukan oleh ketahanan pangan negara, posisi ini adalah ironi yang sangat mengkhawatirkan. Sebab apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka akan menjadi malapetaka. Karena itulah untuk menjamin kemakmuran rakyat, sebuah negara harus memantapkan kedaulatan pangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedaulatan pangan merupakan suatu hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk memiliki kemampuan guna memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri. Di sini yang perlu ditekankan, kedaulatan pangan adalah prasyarat dari sebuah ketahanan pangan. Tapi realitasnya, saat ini Indonesia belum sepenuhnya mampu mengakses dan mengontrol aneka sumberdaya produktif, serta menentukan dan mengendalikan sistem produksi, distribusi dan konsumsi pangan sendiri. Padahal penguasaan produksi, distribusi dan konsumsi pangan nasional merupakan kunci dari kedaulatan pangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila mengacu pada pendapat Soekarno di atas, maka kedaulatan pangan mencerminkan kedaulatan bangsa. Di sini dapat diartikan, negara yang lemah ketahanan pangannya mudah dikendalikan oleh negara lain. Sejarah membuktikan ancaman embargo pangan dapat menghancurkan kedaulatan suatu negara, seperti runtuhnya Uni Soviet akibat embargo pangan NATO yang dimotori Amerika Serikat. Meski berdaya dalam ekonomi dan militer, bila pangan masih tergantung impor maka suatu negara bisa dimasukkan ke dalam kelompok rentan.</p>
<p style="text-align:justify;">Terus melambungnya harga pangan dunia seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk membangun kedaulatan pangan nasional. Mengutip Dahuri (2008), Bank Dunia memprediksi tingginya harga bahan pangan bakal berlangsung lama dan baru menurun pada 2015. Direktur IMF Dominique Strauss-Kahn bahkan mengkhawatirkan krisis pangan ini bisa memicu perang di mana-mana. Empat faktor utama ditengarai menjadi biang keladi dari krisis pangan global.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, stok pangan dunia cenderung menurun sejak dekade terakhir, kebutuhannya terus membubung seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Kedua, perubahan iklim global yang menjungkirbalikkan target produksi pangan.  Ketiga, penggunaan bahan pangan terutama jagung, kedelai, CPO, dan gandum untuk memproduksi biofuel secara masif. Keempat, ulah para spekulan yang kerap menimbun dan menaikkan harga pangan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riau Rice sebagai Origin Point</strong><br />
Di era otonomi daerah, untuk membangun ketahanan pangan bisa dimulai dari daerah. Bila merujuk pada “Art of War”-nya Sun Tzu, daerah sebenarnya mempunyai kekuatan besar untuk menciptakan ketahanan pangan nasional. Sebab potensi pangan nasional sejatinya tersebar di daerah-daerah. Desentralisasi kemudian memberi kewenangan kepada daerah untuk menggerakkan potensinya masing-masing, sesuai dengan kearifan lokal yang berakar di masyarakat. Sebut saja Gorontalo yang terkenal dengan komoditas jagung, serta Papua yang memiliki potensi sagu terbesar di dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Provinsi Riau sendiri dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah, sejak Mei 2008 lalu mempunyai beras Riau Rice yang diproduksi PT Riau Multi Trade (RMT), anak perusahaan BUMD Riau Investment Corporation (RIC). Munculnya Riau Rice di tengah ketergantungan Riau terhadap pasokan beras “impor” dari daerah lain, dapat disebut sebagai origin poin (titik awal) menuju ketahanan pangan daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab selama ini beberapa kabupaten di Riau seperti Rokan Hilir, Rokan Hulu, Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, dan lainnya mempunyai potensi lahan padi yang cukup luas. Namun kenyataanya, beras tersebut selama ini dikuasai tengkulak dari daerah lain yang juga berperan sebagai pemberi pinjaman modal. Sehingga mereka kemudian menguasai harga. Akibatnya kesejahteraan petani tergantung mekanisme pasar yang dikendalikan pedagang. Ironisnya beras tersebut kemudian dijual lagi ke Riau. Kondisi inilah salah satu penyebab kurang dikenalnya produksi padi Riau.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menciptakan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, model yang ideal adalah dengan konsep pemberdayaan. Sebagai contoh pemberdayaan petani di Kecamatan Bungaraya, Siak, sebagai penyuplai gabah untuk memproduksi Riau Rice yang dilakukan oleh RMT. Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), petani akan mendapat pinjaman modal uang dan sarana produksi yang kerja samanya melibatkan perbankan. Tahap awal ada 330 petani dengan pinjaman masing-masing Rp 3 juta untuk 1 hektare lahan (Riau Pos, 9 Oktober 2009).</p>
<p style="text-align:justify;">Namun itu saja tidak cukup, perlu skenario besar yang melibatkan pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan. Sebab dalam Arah Kebijakan Pangan dan Pertanian 2005-2025 (UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025), juga diamanatkan sistem ketahanan pangan diarahkan untuk menjaga ketahanan dan kemandirian pangan nasional, dengan mengembangkan kemampuan produksi dalam negeri yang didukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup di tingkat rumahtangga, baik dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam yang sesuai dengan keragaman lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menggali potensi pangan yang beragam di Riau, tentunya tidak bisa hanya mengandalkan beras. Namun perlu juga menginventarisir potensi pangan pokok non beras misalnya sagu, jagung dan umbi-umbian. Selain itu juga mengembangkan subsektor lainnya seperti perikanan dan peternakan. Sehingga ketahanan pangan menjadi sebuah konsep integratif untuk mencapai destination point, memenuhi kebutuhan seluruh bahan pangan dari hasil produksi sendiri. (*)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Tulisan ini dipublikasikan di Riau Pos, 15 Oktober 2009</em></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=251&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/10/21/kedaulatan-pangan-kedaulatan-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/10/tani.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Penanggulangan Karhutla</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/07/21/komunikasi-penanggulangan-karhutla/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/07/21/komunikasi-penanggulangan-karhutla/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 04:10:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/2009/07/21/komunikasi-penanggulangan-karhutla/</guid>
		<description><![CDATA[Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, sekarang ini sudah menjadi bencana yang perlu ditangani dengan serius. Namun hingga kini konsep penanggulangan karhutla masih belum efektif. Ini terlihat dari masih sering terjadinya karhutla di Riau, bahkan Pekanbaru yang notabene ibukota provinsi. Dampaknya pun dirasakan di banyak sektor, terutama lingkungan dan ekonomi. Untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=209&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-210" title="karhutla" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/07/karhutla.jpg?w=143&#038;h=154" alt="karhutla" width="143" height="154" />Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, sekarang ini sudah menjadi bencana yang perlu ditangani dengan serius. Namun hingga kini konsep penanggulangan karhutla masih belum efektif. Ini terlihat dari masih sering terjadinya karhutla di Riau, bahkan Pekanbaru yang notabene ibukota provinsi. Dampaknya pun dirasakan di banyak sektor, terutama lingkungan dan ekonomi. Untuk itu perlu digagas langkah strategis untuk menanggulangi bencana tahunan yang melanda Riau ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-209"></span>Bila mengacu pada United Nation Development Program (UNDP) yang mendefinisikan bencana sebagai gangguan yang serius dari berfungsinya suatu masyarakat, yang menyebabkan kerugian-kerugian besar terhadap lingkungan, material dan manusia, maka karhutla dapat dikatakan sebagai bencana. Meski, dampaknya tak sebesar kebakaran hutan di Amerika Serikat dan Australia, yang menelan banyak korban jiwa.</p>
<p style="text-align:justify;">Respons pemerintah selama ini masih sebatas ketika terjadi bencana. Untuk itulah, sebaiknya kondisi tersebut membuka kesadaran bersama bahwa perlu manajemen strategis untuk mengatasi karhutla di Riau. Manajemen bencana selama ini terabaikan dan tidak menjadi prioritas, karena bencana masih dianggap hanya datang sewaktu-waktu. Berdasarkan pengalaman tersebut, seharusnya pemerintah dan masyarakat memiliki komitmen membangun kerja sama dalam manajemen bencana melalui komunikasi yang efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Lemahnya komunikasi penanggulangan bencana terlihat sekali pada koordinasi dan pengorganisasian. Akibatnya kerap terjadi kelambanan dalam merespons bencana. Lumpuhnya Bandara Sultan Syarif Kasim II, meningkatnya penderita ganguan pernafasan, dan rusaknya ribuan hektar lahan akibat karhutla seharusnya menjadi pelajaran berharga. Padahal masalah tersebut dapat diminimalisir seandainya koordinasi kesiapsiagaan menghadapi karhutla dilaksanakan dengan baik. Ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) tentang potensi kemarau panjang dan deteksi hot spot seharusnya bisa menjadi dasar untuk membuat konsep manajemen pra bencana.</p>
<p style="text-align:justify;">Manajemen Partisipatif</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam penanggulangan karhutla perlu kerja sama dan koordinasi yang melibatkan semua unsur di pemerintahan, LSM, masyarakat, bahkan dunia usaha dan perguruan tinggi. Lemahnya penanggulangan bencana selama ini, terjadi karena lembaga yang berkompeten menangani bencana masih belum melibatkan partisipasi masyarakat di daerah rawan karhutla.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana (Sphere, 2006) memandang penduduk yang terkena dampak bencana perlu secara aktif berpartisipasi dalam pengkajian, perancangan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Untuk itu harus dilakukan upaya khusus memastikan keikutsertaan perwakilan orang-orang secara seimbang dalam program bantuan, termasuk kelompok rentan dan kelompok terpinggirkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat yang diterbitkan IDEP (2006) juga menegaskan bahwa di daerah rawan bencana seharusnya dibentuk Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB), yang bertugas membuat perencanaan untuk mengurangi dampak bencana yang mungkin terjadi di wilayahnya. Dengan partisipasi masyarakat tersebut, jumlah kerusakan dan akibat yang ditimbulkan dapat diminimalisir.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Bencana yang merumuskan Kerangka Kerja Hyogo 2005-2005: Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana (Hyogo Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters) merekomendasikan perlunya menggalakkan partisipasi komunitas dalam pengurangan risiko bencana melalui penegakan kebijakan-kebijakan khusus, penggalangan jejaring, pengelolaan strategis sumber daya suka rela, pengakuan peran dan tanggungjawab, dan delegasi serta pembagian kewenangan dan sumber daya yang diperlukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Manajemen penanggulangan bencana partisipatif ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran masyarakat terhadap karhutla. Masyarakat perlu diberi penyuluhan dan pemahaman terhadap faktor-faktor penyebab karhutla dan risiko yang ditimbulkannya. Sehingga kerusakan dan kerugian yang lebih besar dapat dicegah sejak dini.</p>
<p style="text-align:justify;">Efektivitas Komunikasi</p>
<p style="text-align:justify;">Komunikasi penanggulangan karhutla akan efektif bila pemerintah menerapkan manajemen penanggulangan karhutla yang partisipatif. Melalui kerja sama dan koordinasi tersebut, kebijakan pemerintah dalam penanggulangan karhutla akan lebih efektif dengan mengoptimalkan sumberdaya lokal yang tersedia. Sehingga masyarakat tidak hanya dilihat sebagai obyek penanggulangan karhutla, tetapi mereka juga sebagai subyek yang bertanggungjawab terhadap potensi karhutla di wilayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat terhadap karhutla akan tercipta melalui komunikasi strategis yang dilakukan pemerintah di daerah rawan karhutla. Hal itu tentunya membutuhkan kesadaran melihat penanggulangan karhutla sebagai suatu manajemen, bukan sekadar respons terhadap alam. Perubahan paradigma menghadapi karhutla perlu segera dilakukan untuk menghindari risiko yang lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat melakukan riset komunikasi penanganan bencana di Yogyakarta untuk menyelesaikan tesis dua tahun lalu, penulis melihat pentingnya peran opinion leader dalam suatu komunitas serta pembentukan kelompok masyarakat (pokmas) untuk mengurangi risiko bencana. Adanya simpul-simpul di tingkat masyarakat tersebut terbukti memudahkan proses penanggulangan bencana. Hal ini barangkali bisa diadopsi untuk menangani karhutla di Riau.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat disarankan untuk meminimalisir karhutla di Riau. Pertama, Pemerintah Provinsi Riau barangkali perlu membentuk sebuah komisi khusus yang bertugas menangani karhutla, mulai pencegahan hingga tindakan. Komisi ini beranggotakan perwakilan dari dinas kehutanan, badan lingkungan, pemadam kebakaran, BMG, TNI/ Polri, LSM, organisasi pecinta alam, unsur perguruan tinggi, dan lain sebagainya. Komisi ini bertanggungjawab melakukan upaya kesiapsiagaan karhutla dan merumuskan strategi penanganannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, perlu dibentuk pokmas penanggulangan karhutla di tingkat desa/ kelurahan yang rawan. Adanya pokmas dapat mengurangi karhutla dengan melakukan deteksi dini dan upaya pencegahan di wilayahnya. Pokmas ini diberi jejaring untuk berkoordinasi dengan komisi penanggulangan karhutla yang dibentuk oleh pemerintah. Di sini kemudahan arus informasi dan komunikasi antara pokmas dengan komisi penanggulangan karhutla cukup penting untuk mengurangi risiko karhutla.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, perlunya ketegasan hukum terhadap pelaku karhutla. Selama ini pelaku sering tidak terdeteksi karena tidak adanya kepedulian masyarakat terhadap karhutla di wilayahnya. Dengan adanya pokmas penanggulangan karhutla, diharapkan timbul kesadaran masyarakat untuk melaporkan bahkan menangkap pelaku karhutla untuk diserahkan kepada pihak berwajib.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya partisipasi masyarakat ini tentunya akan mempermudah kerja pemerintah dalam menanggulangi karhutla. Pemerintah dapat menempatkan posisinya sebagai outsider yang melaksanakan fungsi regulator, fasilitator dan dinamisator. Masyarakatlah yang kemudian menjadi owner program penanggulangan karhutla. Dengan kata lain, pemerintah lebih menekankan fungsi perlindungan melalui upaya yang bersifat top-down, dan pada sisi lain pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan cara bottom-up. ***</p>
<p style="text-align:justify;">(Tulisan saya ini dimuat di halaman Opini Harian Pagi Riau Pos, pada tanggal 16 Juli 2008)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=209&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/07/21/komunikasi-penanggulangan-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/07/karhutla.jpg?w=280" medium="image">
			<media:title type="html">karhutla</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politik Pers dalam Pilpres</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/07/06/politik-pers-dalam-pilpres/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/07/06/politik-pers-dalam-pilpres/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 02:22:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[
Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009 mendatang tak hanya diramaikan persaingan antarcalon presiden dan wakil presiden, tapi juga diwarnai persaingan politik media. Termasuk berbagai media terkemuka nasional. Tak bisa dipungkiri dalam kondisi kebebasan berpolitik, media massa juga ikut meramaikan ranah politik. Sebab kebebasan berpartai politik dan kebebasan pers yang lahir sejak era reformasi, menyuburkan tumbuhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=203&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright size-medium wp-image-204" title="pemilu2009" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/07/pemilu20091.jpg?w=135&#038;h=164" alt="pemilu2009" width="135" height="164" /></p>
<p style="text-align:justify;">Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009 mendatang tak hanya diramaikan persaingan antarcalon presiden dan wakil presiden, tapi juga diwarnai persaingan politik media. Termasuk berbagai media terkemuka nasional. Tak bisa dipungkiri dalam kondisi kebebasan berpolitik, media massa juga ikut meramaikan ranah politik. Sebab kebebasan berpartai politik dan kebebasan pers yang lahir sejak era reformasi, menyuburkan tumbuhnya pers partisan. Sehingga pers pun kadang ikut larut dalam politik tidak sehat dengan melakukan <em>black campaign </em>sehingga kontraproduktif dengan makna kebebasan pers itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-203"></span>Kebebasan pers selain berarti bebas dalam pemberitaan juga bisa dimaknai dengan kebebasan dari belenggu kepentingan. Ketika pers masih bersikap partisan dan mengedepankan kepentingan kelompok tertentu dibandingkan kepentingan informasi publik, maka kemerdekaan publik untuk mendapatkan informasi yang independen akan terenggut. Dalam kondisi demikian kebebasan pers hanyalah sebatas realitas semu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini memang terjadi di manapun, bahkan di negara yang sejak lama memberi kebebasan kepada pers seperti Amerika Serikat (AS). Faktanya jelas terlihat pada Pemilu AS 2008 lalu. Banyak media terpecah menjadi dua kubu, masing-masing bersikap cenderung partisan kepada partai dan kandidat presiden yang didukungnya. Apalagi di Indonesia yang sedang menikmati euforia kebebasan pers sejak satu dekade lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Politik pers merupakan wujud dari politik redaksional setiap media dalam menyikapi momentum tertentu. Menjadi ironis memang ketika pers yang dituntut independensinya untuk memberikan informasi yang benar dan berimbang tanpa keberpihakan kepada kelompok atau golongan tertentu malah terjebak dalam politik praktis. Akibatnya banyak media yang mengedepankan kepentingan kelompok yang dibelanya, tanpa dilandasi konsep kerja jurnalistik berdasarkan fakta dan makna.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika media menjadi partisan, sedikit kesalahan kelompok yang tidak sepaham akan diberitakan dengan bombastis. Sedangkan kesalahan besar pada kelompoknya akan ditutup-tutupi. Sehingga muncul sentimen tertentu yang berpotensi memicu konflik. Pada akhirnya masyarakat akan dibanjiri informasi-informasi yang sarat dengan kepentingan kelompok. Masyarakat awan akhirnya tidak mendapatkan pendidikan politik yang baik dari media. Sehingga peran pers sebagai edukasi akan sirna dengan sendirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi ini sepertinya membenarkan pendapat Sudibyo (2006) yang menyebut, media sebagai instrumen ideologi, melalui mana satu kelompok menyebarkan pengaruh dan dominasinya kepada kelompok lain. Media bukanlah ranah yang netral di mana berbagai kepentingan dan pemaknaan dari berbagai kelompok akan mendapat perlakukan yang seimbang. Media justru bisa menjadi subjek yang mengkonstruksi realitas berdasarkan penafsiran dan definisinya sendiri untuk disebarkan kepada khalayak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan penulis setidaknya ada lima bentuk politik pers yang mungkin dilakukan dalam memberitakan Pilpres 2009. <em>Pertama</em>, visi dan misi capres-cawapres yang didukungnya akan menjadi cetak biru politik redaksional. <em>Kedua,</em> pilihan fakta sosial sebagai bahan pemberitaan akan bertumpu pada fakta yang dianggap menguntungkan capres-cawapres yang didukungnya. <em>Ketiga,</em> menonjolkan narasumber yang mendukung orientasi politik capres-cawapres yang didukungnya. <em>Keempat,</em> pilihan angle berita yang berpihak capres-cawapres yang didukungnya. <em>Kelima,</em> dominasi pemberitaan positif capres-cawapres yang didukungnya dibanding kandidat lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Profesionalisme Pers</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam berbagai literatur tentang kajian media dikatakan bahwa sebenarnya tidak semua media bisa benar-benar netral, baik secara teoritis maupun praktis. Teori analisis wacana bahkan mengungkapkan pemilihan atas peristiwa apa yang menjadi <em>headline</em>, siapa yang menjadi narasumber, bahasa apa yang digunakan, atau sudut pandang apa yang dipakai dalam membaca fakta, semuanya adalah pilihan-pilihan yang tak terhindarkan oleh media bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi dalam peristiwa politik, teori <em>agenda setting</em> lazim digunakan media massa sejak masa lampau untuk memengaruhi pemilih. Di sini pers lebih daripada sekadar pemberi informasi dan opini. Tetapi melalui agenda yang dibuatnya pers mendorong pembaca atau pemirsanya untuk menentukan apa yang perlu dipikirkan. Inilah yang mungkin sekarang ini sedang terjadi menjelang Pilpres 2009.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski ada kecenderungan tidak netral, tapi profesionalisme pers tetap menjadi tuntutan publik untuk mendapatkan informasi yang benar. Terutama tentang perpolitikan tanah air yang mulai memanas menjelang Pilpres. Media diharapkan tetap lebih proporsional dalam pemberitaan Pilpres dengan mengedepankan kebenaran informasi yang dilandasi pada etika jurnalisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa poin yang menjadi harapan agar pers menjunjung tinggi martabat bangsa dengan mengawal jalannya demokrasi pada momentum Pilpres 2009. <em>Pertama,</em> menjalankan jurnalisme damai dengan menghindari pemberitaan politik yang memicu konflik SARA dan konflik antarpartai politik. <em>Kedua,</em> membuat politik redaksional pemberitaan Pilpres yang objektif dan edukatif. <em>Ketiga,</em> tetap menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial terhadap penyimpangan dalam Pilpres. <em>Keempat,</em> menjunjung tinggi etika dan norma pemberitaan Pilpres. <em>Kelima</em>, memberitakan Pilpres dengan adil dan berimbang.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun di sini yang patut dicatat, media tidak mungkin bersikap apolitis. Begitu juga politik yang tidak bisa lepas dari peran media. Keduanya saling membutuhkan. Namun biarlah keduanya saling berinteraksi sebagai dua pihak yang sejajar. Meminjam istilah Iqbal (2005), jika keduanya berselingkuh, keniscayaan akan bias media justru akan semakin menjadi-jadi. Dan korbannya adalah kebenaran itu sendiri, serta rakyat yang berhak untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menjalankan politik redaksional yang memihak pada kebenaran, diharapkan masyarakat tidak memandang kebebasan pers sebagai sesuatu yang utopis. Tapi kebebasan yang membebaskan masyarakat untuk mendapat informasi yang objektif sehingga dapat menentukan pilihannya dengan cerdas. Tanpa terpengaruh pemberitaan media yang menyesatkan dan mendiskreditkan. Bagaimanapun, sebagai <em>agent of informations</em>, pers berperan penting dalam mencerdaskan bangsa. Dalam konteks ini juga bisa diartikan, wajah politik pers mewakili wajah politik bangsa. (*)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tulisan ini merupakan refleksi atas  banyaknya media yang masuk arena politik praktis dan menjadi tim sukses  pada Pilpres 2009.</em></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=203&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/07/06/politik-pers-dalam-pilpres/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/07/pemilu20091.jpg?w=248" medium="image">
			<media:title type="html">pemilu2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran PR dalam Membangun Citra Perusahaan melalui Program CSR</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/15/peran-pr-dalam-membangun-citra-perusahaan-melalui-program-csr/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/15/peran-pr-dalam-membangun-citra-perusahaan-melalui-program-csr/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 04:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Relations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/15/peran-pr-dalam-membangun-citra-perusahaan-melalui-program-csr/</guid>
		<description><![CDATA[

Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan wacana yang sedang mengemuka di dunia bisnis atau perusahaan. Wacana ini digunakan oleh perusahaan dalam rangka mengambil peran menghadapi perekonomian menuju pasar bebas. Perkembangan pasar bebas yang telah membentuk ikatan-ikatan ekonomi dunia dengan terbentuknya AFTA, APEC dan sebagainya, telah mendorong perusahaan dari berbagai penjuru dunia untuk secara bersama melaksanakan aktivitasnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=179&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-180" title="community-globe2" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/community-globe2.jpg?w=141&#038;h=168" alt="community-globe2" width="141" height="168" /></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan wacana yang sedang mengemuka di dunia bisnis atau perusahaan. <span lang="SV">Wacana ini digunakan oleh perusahaan dalam rangka mengambil peran menghadapi perekonomian menuju pasar bebas. Perkembangan pasar bebas yang telah membentuk ikatan-ikatan ekonomi dunia dengan terbentuknya AFTA, APEC dan sebagainya, telah mendorong perusahaan dari berbagai penjuru dunia untuk secara bersama melaksanakan aktivitasnya dalam rangka mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span id="more-179"></span><br />
Sebagaimana hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia 1992, menyepakati perubahan paradigma pembangunan, dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dalam perspektif perusahaan, di mana keberlanjutan dimaksud merupakan suatu program sebagai dampak dari usaha-usaha yang telah dirintis, berdasarkan konsep kemitraan dan rekanan dari masing-masing stakeholders. Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting, di antaranya adalah ; (1) ketersediaan dana, (2) misi lingkungan (3) tanggung jawab sosial, (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat, korporat, dan pemerintah), (5) mempunyai nilai keuntungan (Idris, 2005).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Berbagai peristiwa negatif yang menimpa sejumlah perusahaan, terutama setelah reformasi, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik dan manajemen perusahaan untuk memberikan perhatian dan tanggung jawab yang lebih baik kepada masyarakat, khususnya di sekitar lokasi perusahaan. Sebab kelangsungan suatu usaha tidak hanya ditentukan oleh tingkat keuntungan, tapi juga tanggung jawab sosial perusahaan. Apa yang terjadi ketika banyak perusahaan didemo, dihujat, bahkan dirusak oleh masyarakat sekitar lokasi pabrik?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Bila ditelusuri, boleh jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan tanggung jawab manajemen dan pemilik perusahaan terhadap masyarakat maupun lingkungan di sekitar lokasi perusahaan. Investor hanya mengeduk dan mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di daerah tersebut, tanpa memperhatikan faktor lingkungan. Selain itu, nyaris sedikit atau bahkan tidak ada keuntungan perusahaan yang dikembalikan kepada masyarakat. Justru yang banyak terjadi, masyarakat malah termarginalkan di daerah sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kasus terbaru terjadi di Papua yang melibatkan PT Freeport, hingga menimbuklan efek domino dan menyebabkan chaos di daerah yang terkenal dengan potensi sumber daya alamnya tersebut. Di sekitar areal bertambangan yang mengalirkan jutaan Dollar perhari, kehidupan masyarakat masih hidup miskin dan nyaris tak tersentuh perhatian perusahaan. Bahkan berbagai tindakan anarkis ditimpakan kepada mereka saat mengais sisa produksi di areal pembuangan limbah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kekacauan tersebut seharusnya tidak terjadi bila perusahaan memberikan tanggungjawab sosialnya kepada masyarakat. Sebab seperti dikatakan mantan PM Thailand Anand Panyarachun pada Asian Forum on Coorporate Social Responsibility, 18 September 2003 di Bangkok, “melaksanakan praktik-praktik yang bertanggungjawab terhadap lingkungan dan sosial akan meningkatkan nilai pemegang saham, dan berdampak pada peningkatan prestasi keuangan serta menjamin sukses yang berkelanjutan bagi perusahaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pada kenyatannya CSR tidak serta merta dipraktikkan oleh semua perusahaan. Beberapa perusahaan yang menerapkan CSR justru dianggap sok sosial. Ada juga yang berhasil memberikan materi riil kepada masyarakat, namun di ruang publik nama perusahaan gagal menarik simpati orang. </span><span lang="IT">Tujuannya mau berderma sembari meneguk untung citra, tetapi malah ‘buntung’. Hal ini terjadi karena CSR dilakukan secara latah dan tidak didukung konsep yang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Tujuan penulisan ini adalah untuk membuat konsep CSR yang efektif dan efisien untuk diaplikasikan oleh perusahaan. Dengan mengumpulkan literatur dari berbagai sumber yang sangat relevan di bidangnya, diharapkan tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya praktisi dan peminat studi Public Relations (PR).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">Studi Pustaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span lang="IT">Public Relations</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Public Relations (PR) menurut Jefkins (2003) adalah suatu bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. PR menggunakan metode manajemen berdasarkan tujuan (management by objectives). Dalam mengejar suatu tujuan, semua hasil atau tingkat kemajuan yang telah dicapai harus bisa diukur secara jelas, mengingat PR merupakan kegiatan yang nyata. Kenyataan ini dengan jelas menyangkal anggapan keliru yang mengatakan bahwa PR merupakan kegiatan yang astrak. Sedangkan British Institite Public Relations mendefinisikan PR adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik (good-will) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Pertemuan asosiasi-asosiasi PR seluruh dunia di Mexico City pada bulan agustus 1978, menghasilkan pernyataan mengenai PR sebagai berikut: “Praktik PR adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensinya, memberi masukan dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, serta menerapkan program-program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan kepentingan khalayaknya. Definisi tersebut mencakup aspek-aspek PR dengan aspek-aspek ilmu sosial dari suatu organisasi, yakni tanggungjawab organisasi atas kepentingan publik atau kepentingan masyarakat luas. Setiap organisasi dinilai berdasarkan sepak terjangnya. Jelas bahwa PR berkaitan dengan niat baik (goodwill) dan nama baik atau reputasi (Jefkins, 2003).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Soemirat dan Ardianto (2004) mengklasifikasikan publik dalam PR menjadi beberapa kategori yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">1. Publik internal dan publik eksternal: Internal publik yaitu publik yang berada di dalam organisasi/ perusahaan seperti supervisor, karyawan pelaksana, manajer, pemegang saham dan direksi perusahaan. Eksternal publik secara organik tidak berkaitan langsung dengan perusahaan seperti pers, pemerintah, pendidik/ dosen, pelanggan, komunitas dan pemasok.<br />
2. Publik primer, sekunder, dan marginal. Publik primer bisa sangat membantu atau merintangi upaya suatu perusahaan. </span><span lang="SV">Publik sekunder adalah publik yang kurang begitu penting dan publik marginal adalah publik yang tidak begitu penting. Contoh, anggota Federal Reserve Board of Governor (dewan gubernur cadangan federal) yang ikut mengatur masalah perbankan, menjadi publik primer untuk sebuah bank yang menunggu rotasi secara teratur, di mana anggita legislatif dan masyarakat menjadi publik sekundernya.<br />
3. Publik tradisional dan publik masa depan. Karyawan dan pelanggan adalah publik tradisional, mahasiswa/pelajar, peneliti, konsumen potensial, dosen, dan pejabat pemerintah (madya) adalah publik masa depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">4. Proponent, opponent, dan uncommitted. Di antara publik terdapat kelompok yang menentang perusahaan (opponents), yang memihak (proponents) dan ada yang tidak peduli (uncommitted). Perusahaan perlu mengenal publik yang berbeda-beda ini agar dapat dengan jernih melihat permasalahan.<br />
5. Silent majority dan vocal minority: Dilihat dari aktivitas publik dalam mengajukan complaint (keluhan) atau mendukung perusahaan, dapat dibedakan antara yang vokal (aktif) dan yang silent (pasif). Publik penulis di surat kabar umumnya adalah the vocal minority, yaitu aktif menyuarakan pendapatnya, namun jumlahnya tak banyak. Sedangkan mayoritas pembaca adalah pasif sehingga tidak kelihatan suara atau pendapatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Greener (2002) mengemukakan bahwa PR tidak satu arah arus informasi, ia memiliki dua fungsi peran juga. Dapat, sebagai contoh, membantu membentuk organisasi anda dengan informasi manajemen yang diharapkan, pendapat-pendapat dan hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat ini, dan menerangkan serta memberi nasehat tentang suatu tindakan yang konsekuen. Dalam perannya ini, PR benar-benar merupakan fungsi manajemen, bertugas dengan tanggungjawab menjaga reputasi suatu organisasi ––membentuk, melindungi dan memperkenalkannya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Berkaitan dengan fungsi manajemen, Hutapea (2000) menjelaskan bahwa PR adalah fungsi manajemen untuk membantu menegakkan dan memelihara aturan bersama dalam komunikasi, demi terciptanya saling pengertian dan kerjasama antara lembaga/ perusahaan dengan publiknya, membantu manajemen dan menanggapi pendapat publiknya, mengatur dan menekankan tanggungjawab manajemen dalam melayani kepentingan masyarakat, membantu manajemen dalam mengikuti, memonitor, bertindak sebagai suatu sistem tanda bahaya untuk membantu manajemen berjaga-jaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan buruk, serta menggunakan penelitian dan teknik-teknik komunikasi yang efektif dan persuasif untuk mencapai semua itu.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Untuk implementasi PR secara konkrit di organisasi di masa mendatang, menurut Hubeis (2001) perlu diikuti dengan kegiatan seperti personal development, dan leadership building (konsep pengembangan diri, teknik presentasi yang menarik dan efektif, meningkatkan percaya diri, dan mentalitas sukses); pendirian maupun pemberdayaan pusat data dan informasi untuk mendukung pengembangan program unggulan, yang dimulai dari tahapan mengumpulkan, menyaring, mengolah dan menyebarluaskan informasi; temu aksi (demo, diskusi dan gelar produksi), dalam rangka mengembangkan tingkat komunikasi yang sesuai (intraindividual, interpersonal, intraorganizational dan extraorganizational); pengenalan sikap mitra kerja (teliti, konservatif, berkepala dingin, sensitif, keras dan berpandangan sempit); dan permasalahan yang sedang berkembang di masyarakat, dengan memperhatikan jangkauan media massa yang semakin luas, semakin tinggi tingkat kesadaran pengguna akan haknya terhadap barang atau jasa yang ditawarkan, tingginya mobilitas masyarakat desa ke kota, perubahan iklim politik yang sulit diduga, semakin kritis LSM dalam menyampaikan keluhan konsumen dan adanya produsen pesaing.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dalam lingkungan bisnis yang berubah, PR ditempatkan pada platform yang lebih tinggi. Kebutuhan perusahaan yang berkembang tidak hanya mengembangkan produk atau jasa, tetapi harus berbuat lebih yakni membina hubungan positif dan konsisten dengan pihak-pihak yang terlibat dengan organisasi. Oleh karena itu, agar berkembang dan berfungsi optimal. PR harus didukung oleh berbagai pihak (Octavia, 2003).<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><em><strong>Citra Perusahaan</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian citra adalah: (1) kata benda: gambar, rupa, gambaran; (2) gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi atau produk; (3) kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa atau puisi; (4) data atau informasi dari potret udara untuk bahan evaluasi.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Katz dalam Soemirat dan Ardianto (2004) mengatakan bahwa citra adalah cara bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan, seseorang , suatu komite, atau suatu aktivitas. Setiap perusahaan mempunyai citra. Setiap perusahaan mempunyai citra sebanyak jumlah orang yang memandangnya. Berbagai citra perusahaan datang dari pelanggan perusahaan, pelanggan potensial, bankir, staf perusahaan, pesaing, distributor, pemasok, asosiasi dagang, dan gerakan pelanggan di sektor perdagangan yang mempunyai pandangan terhadap perusahaan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Jefkins (2003) menyebutkan beberapa jenis citra (image). Berikut ini lima jenis citra yang dikemukakan, yakni:<br />
1. Citra bayangan (mirror image). Citra ini melekat pada orang dalam atau anggota-anggota organisasi––biasanya adalah pemimpinnya––mengenai anggapan pihak luar tentang organisasinya.<br />
2. Citra yang berlaku (current image). Adalah suatu citra atau pandangan yang dianut oleh pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi.<br />
3. Citra yang diharapkan (wish image). Adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen.<br />
</span><span lang="ES-TRAD">4. Citra perusahaan (corporate image). Adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya.<br />
5. Citra majemuk (multiple image). Banyaknya jumlah pegawai (individu), cabang, atau perwakilan dari sebuah perusahaan atau organisasi dapat memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan organisasi atau perusahaan tersebut secara keseluruhan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD">Soemirat dan Ardianto (2004) menjelaskan efek kognitif dari komunikasi sangat mempengaruhi proses pembentukan citra seseorang. Citra terbentuk berdasarkan pengetahuan dan informasi-informasi yang diterima seseorang. Komunikasi tidak secara langsung menimbulkan perilaku tertentu, tetapi cenderung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita tentang lingkungan. Public Relations digambarkan sebagai input-output, proses intern dalam model ini adalah pembentukan citra, sedangkan input adalah stimulus yang diberikan dan output adalah tanggapan atau perilaku tertentu. Berikut ini adalah bagan dari orientasi PR, yakni image building (membangun citra) sebagai model komunikasi dalam PR yang dibuat oleh Soemirat dan Ardianto:<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD">Efektivitas PR di dalam pembantukan citra (nyata, cermin dan aneka ragam) organisasi, erat kaitannya dengan kemampuan (tingkat dasar dan lanjut) pemimpin dalam menyelesaikan tugas organisasinya, baik secara individual maupun tim yang dipengaruhi oleh praktek berorganisasi (job design, reward system, komunikasi dan pengambilan keputusan) dan manajemen waktu/ perubahan dalam mengelola sumberdaya (materi, modal dan SDM) untuk mencapai tujuan yang efisien dan efektif, yaitu mencakup penyampaian perintah, informasi, berita dan laporan, serta menjalin hubungan dengan orang. Hal ini tentunya erat dengan penguasaan identitas diri yang mencakup aspek fisik, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD">personil, kultur, hubungan organisasi dengan pihak pengguna, respons dan mentalitas pengguna (Hubeis, 2001).<br />
Praktisi humas senantiasa dihadapkan pada tantangan dan harus menangani berbagai macam fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu hitam, putih, atau abu-abu. Perkembangan komunikasi tidak memungkinkan lagi bagi suatu organisasi untuk menutup-nutupi suatu fakta. Citra humas yang ideal adalah kesan yang benar, yakni sepenuhnya berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta pemahaman atas kenyataan yang sesungguhnya. Itu berarti citra tidak seharusnya “dipoles agar lebih indah dari warna aslinya”, karena hal itu justru dapat mengacaukannya (Anggoro, 2002).<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD"><em><strong>Corporate Social Responsibility (CSR)</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD">Definisi CSR menurut World Business Council on Sustainable Development adalah komitmen dari bisnis/perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Definisi lain, CSR adalah tanggung jawab perusahaan untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan dan harapan stakeholders sehubungan dengan isu-isu etika, sosial dan lingkungan, di samping ekonomi (Warta Pertamina, 2004).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD">Sedangkan Petkoski dan Twose (2003) mendefinisikan CSR sebagai komitmen bisnis untuk berperan untuk mendukung pembangunan ekonomi, bekerjasama dengan karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal dan masyarakat luas, untuk meningkatkan mutu hidup mereka dengan berbagai cara yang menguntungkan bagi bisnis dan pembangunan.<br />
Di dalam Green Paper Komisi Masyarakat Eropa 2001 dinyatakan bahwa kebanyakan definisi tanggungjwab sosial korporat menunjukkan sebuah konsep tentang pengintegrasian kepedulian terhadap masalah sosial dan lingkungan hidup ke dalam operasi bisnis perusahaan dan interaksi sukarela antara perusahaan dan para stakeholder-nya. Ini setidaknya ada dua hal yang terkait dengan tanggungjawab sosial korporat itu yakni pertimbangan sosial dan lingkungan hidup serta interaksi sukarela (Irianta, 2004).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="ES-TRAD">Dalam prinsip responsibility, penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders perusahaan, menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa bagi stakeholders perusahaan, dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Sedangkan stakeholders perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah karyawan, konsumen, pemasok, masyarakat, lingkungan sekitar, dan pemerintah sebagai regulator. CSR sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines. Di sini bottom lines lainnya selain finansial juga adalah sosial dan lingkungan. Karena kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (sustainable). </span><span lang="FI">Keberlanjutan perusahaan hanya akan terjamin apabila, perusahaan memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan hidup. Sudah menjadi fakta bagaimana resistensi masyarakat sekitar, di berbagai tempat dan waktu muncul ke permukaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak memperhatikan aspek-aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidupnya (Idris, 2005).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Perusahaan-perusahaan yang memiliki reputasi bagus, umumnya menikmati enam hal. Pertama, hubungan yang baik dengan para pemuka masyarakat. Kedua, hubungan positif dengan pemerintah setempat. Ketiga, resiko krisis yang lebih kecil. Keempat, rasa kebanggaan dalam organisasi dan di antara khalayak sasaran. </span><span lang="SV">Kelima, saling pengertian antara khalayak sasaran, baik internal maupun eksternal. Dan terakhir, meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan (Anggoro, 2002).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dalam “Model Empat Sisi CSR” perusahaan memiliki tanggung jawab ekonomis, yaitu berbisnis dan mendapatkan profit. Selain itu, ada tanggung jawab legal, semisal keharusan membayar pajak, memenuhi persyaratan Amdal, dan lain-lain. Di luar itu ada tanggung jawab ethical atau etis. Misalnya perusahaan berlaku fair, tidak membeda-bedakan ras, gender, tidak korupsi, dan hal-hal semacam itu. Sementara yang keempat, tanggung jawab discretionary. Tanggung jawab yang seharusnya tidak harus dilakukan, tapi perusahaan melakukan juga atas kemauan sendiri (Warta Pertamina, 2004).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Fajar (2005) mengatakan perilaku para pengusaha pun beragam, dari kelompok yang sama sekali tidak malaksanakan sampai kelompok yang menjadikan CSR sebagai nilai inti (core value) dalam menjalankan usaha. Dalam pengamatannya, terkait dengan praktik CSR, pengusaha dikelompokkan menjadi empat: kelompok hitam, merah, biru, dan hijau.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kelompok hitam adalah mereka yang tidak melakukan praktik CSR sama sekali. Mereka adalah pengusaha yang menjalankan bisnis semata-mata untuk kepentingan sendiri. Kelompok isi sama sekali tidak peduli pada aspek lingkungan dan sosial sekelilingnya dalam menjalankan usaha, bahkan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kelompok merah adalah mereka yang mulai melaksanakan praktik CSR, tetapi memandangnya hanya sebagai komponen biaya yang akan mengurangi keuntungannya. Aspek lingkungan dan sosial mulai dipertimbangkan, tetapi dengan keterpaksaan yang biasanya dilakukan setelah mendapat tekanan dari pihak lain, seperti masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. Kesejahteraan karyawan baru diperhatikan setelah karyawan ribut atau mengancam akan mogok kerja. Kelompok ini umumnya berasal dari kelompok satu (kelompok hitam) yang mendapat tekanan dari stakeholders-nya, yang kemudian dengan terpaksa memperhatikan isu lingkungan dan sosial, termasuk kesejahteraan karyawan. CSR jenis ini kurang berimbas pada pembentukan citra positif perusahaan karena publik melihat kelompok ini memerlukan tekanan (dan gertakan) sebelum melakukan praktik CSR. Praktik jenis ini tak akan mampu berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kelompok ketiga adalah mereka yang menganggap praktik CSR akan memberi dampak positif (return) terhadap usahanya dan menilai CSR sebagai investasi, bukan biaya. Karenanya, kelompok ini secara sukarela dan sungguh-sungguh melaksanakan praktik CSR dan yakin bahwa investasi sosial ini akan berbuah pada lancarnya operasional usaha. Mereka mendapat citra positif karena masyarakat menilainya sungguh-sungguh membantu. Selayaknya investasi, kelompok ini menganggap praktik CSR adalah investasi sosial jangka panjang. Mereka juga berpandangan, dengan melaksanakan praktik CSR yang berkelanjutan, mereka akan mendapat ijin operasional dari masyarakat. Kita dapat berharap kelompok ini akan mampu memberi kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kelompok keempat, kelompok hijau, merupakan kelompok yang sepenuh hati melaksanakan praktik CSR. Mereka telah menempatkannya sebagai nilai inti dan menganggap sebagai suatu keharusan, bahkan kebutuhan, dan menjadikannya sebagai modal sosial (ekuitas). Karenanya, mereka meyakini, tanpa melaksanakan CSR, mereka tidak memiliki modal yang harus dimiliki dalam menjalankan usaha mereka. Mereka sangat memperhatikan aspek lingkungan, aspek sosial dan kesejahteraan karyawannya serta melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Kelompok ini juga memasukkan CSR sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam model bisnis atas dasar kepercayaan bahwa suatu usaha harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. Mereka percaya, ada nilai tukar (trade-off) atas triple bottom line (aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial). Buahnya, kelompok ini tidak saja mendapat citra positif, tetapi juga kepercayaan, dari masyarakat yang selalu siap membela keberlanjutan usaha kelompok ini. Tak mengherankan, kelompok hijau diyakini akan mampu berkontribusi besar terhadap pembangunan berkelanjutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Membangun Citra Perusahaan Melalui Program CSR</span></strong><span lang="SV"><br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><em><strong>CSR dan Citra Korporat</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dalam News Of PERHUMAS (2004) disebutkan, bagi suatu perusahaan, reputasi dan citra korporat merupakan aset yang paling utama dan tak ternilai harganya. Oleh karena itu segala upaya, daya dan biaya digunakan untuk memupuk, merawat serta menumbuhkembangkannya. Beberapa aspek yang merupakan unsur pembentuk citra &amp; reputasi perusahaan antara lain; (1) kemampuan finansial, (2) mutu produk dan pelayanan, (3) fokus pada pelanggan, (4) keunggulan dan kepekaan SDM, (5) reliability, (6) inovasi, (7) tanggung jawab lingkungan, (8) tanggung jawab sosial, dan (9) penegakan Good Corporate Governance (GCG).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Arus globalisasi telah memicu dinamika lingkungan usaha ke arah semakin liberal, sehingga mendorong setiap entitas bisnis melakukan perubahan pola usaha melalui penerapan nilai-nilai yang ada dalam prinsip GCG, yakni: fairness, transparan, akuntabilitas dan responsibilitas, termasuk tanggung jawab terhadap lingkungan, baik fisik maupun sosial. Berdasarkan pertimbangan nilai dan prinsip GCG, maka dalam rangka meningkatkan citra dan reputasi dan sebagai upaya untuk menunjang kesinambungan investasi, setiap enterprise memerlukan tiga hal:<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">1. Adil (fair) kepada seluruh stakeholders (tidak hanya kepada shareholders).<br />
2. Proaktif (juga), berperan sebagai agent of change dalam pemberdayaan masyarakat di daerah operasi.<br />
3. Efisien, berhati-hati dalam pengeluaran biaya yang sia-sia terutama untuk penyelesaian masalah yang timbul dengan stakeholders fokus di sekitar daerah operasi.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Corporate Social Responsibility (CSR) telah diuraikan terdahulu bahwa sebagai suatu entitas bisnis dalam era pasar bebas yang sangat liberal dan hyper competitive, perusahaan-perusahaan secara komprehensif dan terpadu melakukan best practices dalam menjalankan usahanya dengan memperhatikan nilai-nilai bisnis GCG, termasuk tanggung jawab terhadap lingkungan, baik fisik (berkaitan dengan sampah, limbah, polusi dan kelestarian alam) maupun sosial kemasyarakatan. Tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan diejawantahkan dalam kebijakan Kesehatan Keselamatan Kerja &amp; Lindungan Lingkungan (K3LL) dan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Berdasarkan sifatnya, pelaksanaan program CSR dapat dibagi dua, yaitu :<br />
1. Program Pengembangan Masyarakat (Community Development/CD); dan<br />
2. Program Pengembangan Hubungan/Relasi dengan publik (Relations Development/RD).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Sasaran dari Program CSR (CD &amp; RD) adalah: (1) Pemberdayaan SDM lokal (pelajar, pemuda dan mahasiswa termasuk di dalamnya); (2) Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat sekitar daerah operasi; (3) Pembangunan fasilitas sosial/umum, (4) Pengembangan kesehatan masyarakat, (5) Sosbud, dan lain-lain.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Seminar “Corporate-Stakeholder Partnership: Toward Productive Relations” yang diadakan Lead Indonesia bekerjasama dengan Labsosio FISIP UI di Jakarta, 14 Juni 2005 (dalam www.lead.or.id, 2005), menyimpulkan beberapa hal berkaitan dengan pembentukan citra perusahaan yaitu: perlunya kemitraan, siapa saja stakeholders, tiga skenario kemitraan, prasyarat kemitraan yang sukses, dan peran pemerintah dan masyarakat. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan bisnis dan sosial yang berubah menuntut perubahan paradigma dan tindakan. Dalam hal ini melihat semakin mendesaknya pengembangan kemitraan yang otentik dan produktif antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat untuk mencapai pembangunan yang adil serta berkelanjutan secara sosial dan lingkungan, berikut penjelasannya:<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><em><strong>Mengapa Perlu Kemitraan</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kemitraan (partnership) antara korporasi dengan stakeholders menjadi suatu keharusan dalam lingkungan bisnis yang berubah. Pola konvensional ”business as usual” telah menghasilkan keadaan negatif seperti terdesaknya kepentingan publik (“enlightened common interests”), kelangkaan barang jasa publik, dan pencemaran lingkungan. Demikian pula berbagai dinamika sosial yang muncul seperti reformasi, demokratisasi dan desentralisasi menghasilkan stakeholders dan masyarakat yang semakin kiritis. Mereka berupaya meningkatkan taraf hidupnya serta memposisikan diri sebagai subyek dan mitra yang setara. Dalam hal ini, korporasi perlu menginternalisasi masalah eksternal perusahaan secara terencana sehingga dapat mencegah kekagetan dan krisis yang dapat mengancam keberlangsungan kegiatan dan keberadaan korporasi.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kemitraan dapat menghasilkan solusi antara argumen yang menekankan market atau profit (&#8220;the business of business is business&#8221; yang memprioritaskan shareholders) dengan argumen moral (atau Corporate Social Responsibility atau CSR yang memperhatikan stakeholders). Dalam hal ini stakeholders termasuk lingkungan yang &#8220;diam&#8221; (&#8220;silent&#8221; stakeholders atau flora dan fauna ). Dengan kata lain, kemitraan merupakan suatu investasi—bukan cost—dan dapat menghasilkan win-win solution atau sinergi yang menghasilkan keadilan bagi masyarakat dan keamanan berusaha serta keserasian dengan lingkungan.<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><em><strong>Siapa Saja Stakeholders</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kemitraan dengan stakeholders ini memerlukan kejelasan dengan definisi stakeholders itu sendiri: siapa saja mereka itu? Terdapat pendapat yang menyatakan pentingnya internal stakeholders dalam setiap perusahaan yakni karyawan yang juga merupakan primary stakeholders terutama dalam usaha manufacturing. Jenis usaha sektor lainnya lebih menekankan komunitas sekitar korporasi seperti dalam usaha ekstraktif (mineral dan tambang). Demikian pula konsumen dalam sektor jasa maupun suppliers dan usaha kecil (UKM) telah pula dipandang sebagai stakeholders. Dalam hal ini peran pemerintah lokal, kabupaten, propinsi dan nasional dianggap pula sebagai stakeholders yang penting.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pendefinisian stakeholders penting karena dapat menghindarkan penyamaan atau penyederhanaan &#8220;Tanggung Jawab Sosial&#8221; (CSR) dengan &#8220;pengembangan komunitas&#8221; atau community development (CD) karena &#8220;CSR is beyond or more than CD.&#8221; Jelaslah bahwa CSR mencakup berbagai kegiatan yang mendukung Good Corporate Governance (seperti ketaatan membayar pajak) dan upaya pecapaian Good Corporate Citizenship. Dalam banyak kasus seringkali CD mendominasi CSR dan terjadi dalam industri ekstraktif dimana peran komunitas lingkungan yang sumberdaya alamnya merasa &#8220;terambil&#8221; memerlukan pendekatan khusus untuk mencegah konflik.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hal yang sangat penting dalam kemitraan adalah data dan indikator maupun riset mengenai siapa saja dan aspirasi mereka (stakeholders’ map and dialogue). Sebagai contoh data mengenai komunitas, sumber daya air atau potensi UKM (Usaka Mikro Kecil dan Menengah) akan membantu mengoptimalkan kinerja kemitraan.<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><em><strong>Tiga Skenario Kemitraan</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kemitraan antara perusahaan dengan stakeholders dapat mengarah ke tiga skenario: &#8220;un-productive,&#8221; &#8220;semi-productive,&#8221; atau &#8220;productive.&#8221; Skenario &#8220;un-productive&#8221; akan terjadi jika perusahaan masih berpikir degan pola konvensional yang hanya mengutamakan kepentingan shareholders atau paradigma &#8220;the business of business is business.&#8221; Dalam skenario ini situasi &#8220;low trust&#8221; terjadi dan tiada stakeholders engagement dimana mereka masih dianggap sebagai obyek dan masalah diluar perusahaan (&#8220;eksternalitas&#8221;) tidak diinternalisasikan. Dalam skenario ini kemitraan dapat saja terjadi namun lebih bersifat negatif dengan stakeholders negatif pula seperti oknum aparat atau preman. Berbagai keadaan negatif dapat terjadi misalnya pemogokan atau &#8220;slow-down&#8221; oleh buruh, boikot oleh konsumer, blokade oleh komunitas, dan pencemaran lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam dengan sewenang-wenang serta pelanggaran HAM komunitas lokal. Keadaan terburuk yang dapat terjadi adalah terhentinya kegiatan maupun keberadaan perusahaan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pola kedua adalah kemitraan yang &#8220;semi-produktif&#8221; yang bercirikan kepentingan jangka pendek dan belum atau tidak menimbulkan &#8220;sense of belonging&#8221; di pihak stakeholders. Kerjasama lebih mengandung aspek charity atau Public Relation (PR) dimana stakeholders masih lebih dianggap sebagai obyek. Dengan kata lain, kemitraan masih belum otentik (genuine) dan masih mengedepankan kepentingan diri (self-interest) perusahaan, bukan kepentingan bersama (common interests) antara perusahaan dengan stakeholders. </span>Dengan kata lain, shareholders engagement masih disekitar tahap &#8220;low trust.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemitraan yang &#8220;productive&#8221; dan otentik menekankan stakeholders sebagai subyek dan dalam paradigma &#8220;common interest.&#8221; Pola ini dapat saja didukung oleh &#8220;resource-based partnership&#8221; dimana stakeholders diberi kesempatan menjadi shareholders. Sebagai contoh, karyawan memperoleh saham melalui Employee Stock Ownership Program (ESOP), dan hal ini akan membantu kelancaran produksi. Demikian pula saham untuk komunitas atau pemerintah daerah dapat meningkatkan community security. Kasus Exxon di Blok Cepu menjadi menarik dimana Pemda Bojonegoro direncanakan akan memperoleh 10% saham. Keadaan ini menimbulkan &#8220;sense of belonging&#8221; dan high-trust serta hubungan sinergis antara subyek-subyek dalam paradigma &#8220;common interests.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketiga skenario diatas dapat digunakan untuk menganalisis keberadaan kemitraan setiap perusahaan dan jelaslah terlihat bahwa stakeholders dapat saja lebih berperan mempengaruhi kehidupan perusahaan dibandingkan dengan shareholders. Dengan kata lain, dinamika saham (share) di bursa saham dapat sangat dipengaruhi oleh dinamika stakeholders di lapangan.<br />
<em><strong></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong>Prasyarat Kemitraan yang Sukses</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Program kemitraan yang sukses atau &#8220;productive&#8221; dimulai dengan adanya kehendak yang kuat dan tulus dari pimpinan di perusahan dan kelompok stakeholders. Di pihak perusahaan, diperlukan adanya komitmen dari pimpinan perusahaan (CEO) yang berupaya tanpa henti untuk mengubah paradigma konvensionl (self-interest) ke paradigma baru (enlightened common interests). Kemitraan yang sukses dapat pula didorong oleh komisi atau panel independen (Kasus BP di Tangguh, Papua) yang berfungsi sebagai ombudsman dan melaporkannya pada pimpinan pusat perusahaan. Selain itu perlu meletakkan posisi unit yang mengatur kemitraan (CSR) dalam struktur yang cukup penting dalam perusahaan. <span lang="SV">Demikian pula staf unit CSR harus mempunyai kompetensi, pengalaman dan kecakapan sosial (social skills) dan bukanlah &#8220;orang buangan&#8221; di perusahaan. Mereka harus sensitif pada kebutuhan dan kondisi lokal termasuk menghormati simbol, nilai, situs sakral maupun keberadaan pemuka masyarakat. Mencapai kemitraan yang sukses berarti selalu mempelajari dan mengambil manfaat dari berbagai kasus yang gagal atau sukses (best practices) di masa lalu. Selain itu perlu pula sosialisasi pada perusahaan yang masih belum sadar atas pentingnya kemitraan dan CSR.<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><em><strong>Peran Pemerintah dan Masyarakat</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Keberadaan dan peran perusahaan tidaklah terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini peran pemerintah sebagai penjamin keamanan dan penegak hukum serta menciptakan iklim bisnis yang kondusif akanlah sangat menentukan dalam keberlanjutan hidup perusahaan. Selain itu pemerintah dituntut untuk melakukan intervensi pasar melalui pajak, subsidi untuk mendorong penggunaan renewable resources, pengembangan eco-efficiency serta kebijakan distribusi resources yang mengindahkan equity. Pemerintah juga diharapkan untuk berinisiatif membentuk forum stakeholders sebagai wadah kemitraan yang disertai kegiatan dan indikator kinerja yang nyata. Seperti juga perusahaan yang dituntut untuk melakukan CSR maka pemerintah harus pula memenuhi political accountability terhadap warga negara pemberi mandat. Saat ini terdapat pro kontra jika pemerintah daerah kurang berfungsi dan mendorong perusahaan (terutama dalam industri ekstraktif) menjadi quasi government. Di satu pihak, hal ini akan menurunkan kewibawaan dan peran pemerintah namun di lain pihak hal ini merupakan upaya pembelajaran dalam pencapaian good governance. Salah satu ujian penting dari kinerja pemerintah adalah mensukseskan pelaksanaan otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah sehingga mendukung segitiga kemitraan dengan perusahaan dan masyarakat.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Demikian juga masyarakat mempunyai peran yang penting sebagai penghubung antara pemerintah dengan perusahaan. Masyarakat diharapkan menjadi aktif dan mengkoreksi dampak pembangunan, menyampaikan aspirasi publik serta dinamisator keberdayaan publik. Dalam hal ini masyarakat harus dapat pula mengatasi anggotanya yang berperilaku negatif (bad elements of civil society) dengan pembuatan aturan perilaku (code of conducts). </span><span lang="FI">Pemberian &#8220;mandat sosial&#8221; bagi perusahaan untuk beroperasi hendaknya didukung pula oleh &#8220;proteksi sosial.&#8221; Hal ini akan semakin mendesak jika terjadi pemberian saham yang dapat saja menimbulkan konflik di dalam masyarakat sendiri. Dengan kata lain, good governance perlu dikembangkan pula di masyarakat selain di pemerintah dan perusahaan.<br />
<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><strong>Kebijakan Publik untuk CSR</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Petkoski dan Twose (2003) mengatakan walaupun agenda CSR saat ini sedang didewasakan, istilah &#8220;CSR&#8221; belum mengambil banyak peran di sektor publik, baik di negara industri atau negara berkembang. Sebagian pemerintah yang berinisiatif melakukannya dijuluki sebagai “pro-CSR initiatives”, meskipun begitu banyak orang sudah mendukung secara efektif promosi tentang tanggung jawab sosial yang lebih besar. Sebagai contoh, perangsang utama aktivitas sektor publik yang mempromosikan barang ekspor dan barang-barang pendukung atau jasa cukuplah untuk mendapat tambahan devisa, tapi mereka masih mempunyai dampak positif dengan memberi harapan bertanggung jawab produksi.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Para agen sektor publik yang tidak menggunakan ungkapan “corporate social responsibility” tidak melakukan kegiatan apa pun. Tantangannya adalah mengidentifikasi prioritas dan inisiatif dalam kaitan dengan pembangunan lokal dan nasional berdasar pada kapasitas dan inisiatif. Ada satu kesempatan penting bagi sektor publik di negara berkembang untuk memanfaatkan gairah &#8220;CSR&#8221; sekarang ini, sepanjang berada dalam tujuan dan prioritas kebijakan publik dan mendorong pengakuan keduanya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Perhatian yang bertumbuh seiring dengan potensi prioritas sektor publik dan CSR pada aktivitas bisnis, paling sedikit mengenai sosial dan praktik manajemen lingkungan ke hulu industri ekstraktif. Hal ini menerima tanpa bukti: bagaimana mungkin kebijakan publik dirumuskan untuk memperkuat kesejajaran, sedangkan kepastian itu menghasilkan intervensi keduanya &#8216;optimal&#8217;––baik untuk bisnis dan development––dan &#8216;feasible&#8217;––dalam batasan hubungan kelembagaan para agen sektor publik dan pengarah nilai bisnis. Tabel yang dirumuskan World Bank di bawah ini memberikan gambaran potensi kesejajaran antara CSR dalam praktek bisnis serta kebijakan dan tanggungjawab sektor publik.<br />
<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><strong>Penerapan CSR yang Lebih Strategis</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Aryani (2006) mencatat bahwa konsep dan praktik CSR sudah menunjukkan gejala baru sebagai keharusan yang realistis diterapkan. Para pemilik modal tidak lagi menganggap sebagai pemborosan. Masyarakat pun menilai sebagai suatu yang perlu. Hal ini terkait dengan meningkatnya kesadaran sosial kemanusiaan dan lingkungan. Di luar itu, dominasi dan hegemoni perusahaan besar sangat penting peranannya di masyarakat. Kekuasaan perusahaan yang semakin besar, sebagaimana dinilai Dr David Korten, penulis buku When Corporations Rule the World melukiskan bahwa dunia bisnis, selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi yang paling berkuasa di jagad ini.</span><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Bahkan pengamat globalisasi Dr Noorena Herzt (dalam Aryani, 2006) berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan besar di berbagai negara telah mengambil alih secara diam-diam kekuasaan politik dari kalangan politisi. Pengambilalihan secara diam-diam (the silent take over) ini terjadi karena kian ketatnya produk hukum yang menuntut tanggungjawab sosial kaum pemodal. Akibatnya, menurut Noorena, pemodal harus masuk dalam dunia politik agar tidak terus terpojok dengan tuntutan politik pemerintah dan masyarakat. Bahkan menurut Noorena, dalam satu dasawarsa terakhir ini, peranan CSR perusahaan besar sangat berperan di masyarakat ketimbang peranan institusi publik (negara). Memang pada kenyataannya kita tidak bisa mengelak perubahan mendasar dunia sebagaimana dikatakan Noorena tersebut. Dunia telah menjelma realitas di mana kapitalisme menjadi panggung yang absah bagi kehidupan kita. Berpijak pada reel kapitalisme global inilah seluruh tanggung jawab kehidupan umat manusia harus selalu mempertimbangkan kepentingan para pebisnis. </span><span lang="SV">Pertimbangan bukan berarti harus tunduk, melainkan harus saling menjaga kepentingan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kapitalisme dikatakan Aryani (2006) tidak identik dengan pengerukan modal tanpa pertimbangan sosial. Bahkan untuk era baru sekarang ini, kapitalisme hanya bisa berkembang baik jika bersinergi dengan dunia sosial. Sejalan dengan itu, masyarakat modern sudah menjauh dari sikap anti kapitalisme. Ideologi, baik sosialisme maupun kapitalisme sudah menjauh dari imajinasi orang. Hanya saja karena kapitalisme telah menjadi realitas, maka jalur kehidupan masyarakat mau tidak mau harus melewati reel kapitalisme. Kini orang menyadari bahwa yang terpenting bukanlah ideologi, melainkan sikap kompromi untuk menemukan jalan terbaik. Karena itu, pemerintah tidak boleh tunduk oleh kaum pemodal, sebagaimana kaum pemodal tidak boleh tunduk oleh politisi. Rakyat, pemerintah dan pemodal harusnya berada dalam pihak yang setara merumuskan strategi kebijakan publik untuk kepentingan bersama. Di negara kapitalis, penciptaan ruang publik yang demikian itu sudah berjalan. Bahkan peranan CSR perusahaan sangat menguntungkan pemodal. Pemerintah juga untung karena selain mudah melobi pembayaran pajak juga terbantu tanggungjawab sosialnya kepada rakyat miskin.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pakar pemasaran Craig Semit (dalam Aryani, 2006) yang merintis pendekatan baru CSR yang dia sebut The Corporat Philanthropy berpendapat bahwa kegiatan CSR harus disikapi secara strategis dengan melakukan alighment (penyelarasan) inisiatif CSR yang relevan dengan produk inti (core product) dan pasar inti (core market), membangun indentitas merek (brand indentity), bahkan lebih tegas lagi untuk menggaet pangsa pasar, melakukan penetrasi pasar, atau menghancurkan pesaing. Kegiatan CSR yang diarahkan memperbaiki konteks korporat inilah yang memungkinkan alighment antara manfaat sosial dan bisnis dari kegiatan CSR yang muaranya untuk meraih keuntungan materi dan keuntungan sosial dalam jangka panjang. CSR tidak haram dipraktikkan, bahkan dengan target mencari untung. Yang terpenting adalah kemampuan menerapkan strategi. Jangan sampai karena CSR biaya operasional justru menggerogoti keuangan. Jangan pula karena praktik CSR masyarakat justru antipati.<br />
<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><strong>Peran PR dalam Implementasi CSR</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Idris (2005) mengemukakan sesungguhnya substansi keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan, dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya. Atau dalam pengertian kemampuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, komunitas dan stakeholder yang terkait dengannya, baik lokal, nasional, maupun global. Karenanya pengembangan CSR ke depan seyogianya mengacu pada konsep pembangunan yang berkelanjutan (Sustainability development).<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Prinsip keberlanjutan ini mengedepankan pertumbuhan, khususnya bagi masyarakat miskin dalam mengelola lingkungannya dan kemampuan institusinya dalam mengelola pembangunan, serta strateginya adalah kemampuan untuk mengintegrasikan dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial yang menghargai kemajemukan ekologi dan sosial budaya. Kemudian dalam proses pengembangannya tiga stakeholders inti diharapkan mendukung penuh, di antaranya adalah; perusahaan, pemerintah dan masyarakat.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dalam implementasi program-program dalam CSR, diharapkan ketiga elemen di atas saling berinteraksi dan mendukung, karenanya dibutuhkan partisipasi aktif masing-masing stakeholders agar dapat bersinergi, untuk mewujudkan dialog secara komprehensif. Karena dengan partisipasi aktif para stakeholders diharapkan pengambilan keputusan, menjalankan keputusan, dan pertanggungjawaban dari implementasi CSR akan di emban secara bersama.Tapi dalam hal memandang dan menyikapi CSR ke depan, sesungguhnya perlu ada kajian dan sosialisasi yang serius di internal perusahaan dari semua departemen di dalamnya. Paling tidak untuk menyamakan persepsi di antara pelaku dan pengambil kebijakan di dalam satu perusahaan, karena perubahan paradigma pengelolaan perusahaan yang terjadi saat ini, baik ditingkat lokal maupun global, tidak serta merta dipahami oleh pengelola dan pengambil kebijakan di satu perusahaan sehingga pemahaman akan wacana dan implementasi CSR beragam pula, dan otomatis akan mengalami hambatan-hambatan secara internal perusahaan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kesadaran tentang pentingnya mengimplementasikan CSR ini menjadi tren global seiring dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak azasi manusia (HAM). Bank-bank di Eropa menerapkan kebijakan dalam pemberian pinjaman hanya kepada perusahaan yang mengimplementasikan CSR dengan baik. Sebagai contoh, bank-bank Eropa hanya memberikan pinjaman pada perusahaan-perusahaan perkebunan di Asia apabila ada jaminan dari perusahaan tersebut, yakni ketika membuka lahan perkebunan tidak dilakukan dengan membakar hutan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Menghadapi tren global dan resistensi masyarakat sekitar perusahaan, maka sudah saatnya setiap perusahaan memandang serius pengaruh dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan dari setiap aktivitas bisnisnya, serta berusaha membuat laporan setiap tahunnya kepada stakeholders-nya. Laporan bersifat non financial yang dapat digunakan sebagai acuan oleh perusahaan dalam melihat dimensi sosial, ekonomi dan lingkungannya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kemudian diharapkan sosialisasi wacana dan tren CSR ini, tidak hanya bergulir di lingkup manajemen perusahaan tetapi juga kepada semua shareholders dan stakeholders secara luas, agar implementasinya berlangsung secara elegan, dengan harapan perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sebagai komponen shareholders dan stakeholders bisa mengambil peran yang signifikan, untuk mengeliminir resistensi kelompok-kelompok yang senantiasa mengatasnamakan masyarakat untuk melakukan “pemerasan” kepada perusahaan dengan mengusung tema-tema CSR dalam setiap aksinya, tapi tidak mengerti substansi CSR itu sendiri, dan miskin data.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dalam implementasi CSR ini public relations (PR) mempunyai peran penting, baik secara internal maupun eksternal. Dalam konteks pembentukan citra perusahaan, di semua bidang pembahasan di atas boleh dikatakan PR terlibat di dalamnya, sejak fact finding, planning, communicating, hingga evaluation. Jadi ketika kita membicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah perusahaan, di mana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR pada dasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah CSR.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Irianta (2004) memandang community relations berdasarkan dua pendekatan. Pertama, dalam konsep PR lama yang memosisikan organisasi sebagai pemberi donasi, maka program community relations hanyalah bagian dari aksi dan komunikasi dalam proses PR. Bila berdasarkan pengumpulan fakta dan perumusan masalah ditemukan bahwa permasalahan yang mendesak adalah menangani komunitas, maka dalam perencanaan akan disusun program community relations. Ini kemudian dijalankan melalui aksi dan komunikasi. Kedua, yang memosisikan komunitas sebagai mitra, dan konsep komunitasnya bukan sekedar kumpulan orang yang berdiam di sekitar wilayah operasi organisasi, community relations dianggap sebagai program tersendiri yang merupakan wujud tanggungjawab sosial organisasi.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dengan menggunakan tahapan-tahapan dalam proses PR yang bersifat siklis, maka program dan kegiatan CSR dilakukan melalui tahapan-tahapan berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span lang="SV">1. Pengumpulan Fakta</span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat sekitar daerah operasional perusahaan. Mulai dari permasalahan lingkungan seperti polusi, sanitasi lingkungan, pencemaran sumber daya air, penggundulan hutan sampai dengan permasalahan ekonomi seperti tingkat pengangguran yang tinggi, sumber daya manusia yang tidak berketerampilan, rendahnya kemauan berwirausaha dan tingkat produktivitas individu yang rendah.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">PR bisa mengumpulkan data tentang permasalahan tersebut dari berbagai sumber, misalnya dari berita media massa, data statistik, obrolan warga, atau keluhan langsung dari masyarakat. Selain itu masih banyak sumber yang bisa digunakan untuk mengumpulkan fakta mengenai persoalan sosial yang dihadapi komunitas. PR juga bisa menelusuri laporan-laporan hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi atau LSM mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat.<br />
<strong><em></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><strong><em>2. Perumusan Masalah</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Masalah secara sederhana bisa dirumuskan sebagai kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang dialami, yang untuk menyelesaikannya diperlukan kemampuan menggunakan pikiran dan keterampilan secara tepat. Misalnya, dari pengumpulan fakta diketahui salah satu masalah yang mendesak dan bisa diselesaikan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki organisasi adalah rendahnya keterampilan para pemuda sehingga tak bisa bersaing di pasar kerja atau tak bisa diandalkan untuk membuka lapangan kerja bagi dirinya. Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan permasalahan: Rendahnya keterampilan kerja pemuda lulusan sekolah menengah.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Namun tidak semua pemuda tamatan sekolah menengah yang rendah tingkat keterampilan kerjanya yang diidentifikasi sebagai masalah. </span><span lang="FI">Namun terbatas pada komunitas sekitar lokasi perusahaan atau di beberapa kota. Jadi, dalam merumuskan masalah tersebut PR mulai memfokuskan pada komunitas organisasi. Bila komunitasnya dirumuskan secara sederhana, berarti komunitas berdasarkan lokasi yakni komunitas sekitar wilayah operasi korporat. Namun bila komunitasnya dipandang sebagai struktur interaksi maka komunitas tersebut lepas dari pertimbangan kewilayahan, tetapi lebih pada pertimbangan kesamaan kepentingan.<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><em><strong>3. Perencanaan dan Pemrograman</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Perencanaan merupakan sebuah prakiraan yang didasarkan pada fakta dan informasi tentang sesuatu yang akan terwujud atau terjadi nanti. Untuk mewujudkan apa yang diperkirakan itu dibuatlah suatu program. Setiap program biasanya diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan sebagai bagian dari program merupakan langkah-langkah yang ditempuh untuk mewujudkan program guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kembali kepada perumusan masalah tentang rendahnya keterampilan kerja pemuda lulusan sekolah menengah, maka PR menyusun rencana untuk mencapai tujuan agar para pemuda lulusan sekolah menengah itu memiliki keterampilan kerja yang bisa digunakan untuk mencari kerja atau membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, program yang disusun misalnya menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan bagi mereka.<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><em><strong>4. Aksi dan Komunikasi</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Aspek dari aksi dan komunikasi inilah yang membedakan kegiatan community relations dalam konteks PR dan bukan PR. Di mana watak PR ditampilkan lewat kegiatan komunikasi. PR pada dasarnya merupakan proses komunikasi dua arah yang bertujuan untuk membangun dan menjaga reputasi dan citra organisasi di mata publiknya. Karena itu, dalam program CSR selalu ada aspek bagaimana menyusun pesan yang ingin disampaikan kepada komunitas, serta melalui media apa dan cara bagaimana.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Sedangkan aksi dalam implementasi program yang sudah direncanakan, pada dasarnya sama saja dengan implementasi program apa pun. Kembali pada contoh kasus awal, ketika program pendidikan dan pelatihan keterampilan itu dijalankan, harus ada ruangan, baik untuk penyampaian teori maupun bengkel kerja sebagai tempat praktik. Di situlah aksi pendidikan dan pelatihan dijalankan. Di dalamnya tentu saja ada komunikasi yang menjelaskan kenapa program itu dijalankan, juga masalah tanggungjawab sosial organisasi pada komunitasnya sehingga memilih untuk menjalankan program kegiatan tersebut. Dengan begitu diharapkan akan berkembang pandangan yang positif dari komunitas terhadap organisasi sehingga reputasi dan citra organisasi menjadi baik.<br />
<em><strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><em><strong>5. Evaluasi</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Evaluasi merupakan keharusan pada setiap akhir program atau kegiatan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi program. Berdasarkan hasil evaluasi ini bisa diketahui apakah program bisa dilanjutkan, dihentikan atau dilanjutkan dengan melakukan beberapa perbaikan dan penyempurnaan. Namun dalam konteks community relations perlu diingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelenggaraan program atau kegiatan belaka. Melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap komunitas terhadap organisasi. Evaluasi atas sikap publik ini diperlukan karena, pada dasarnya community relations ini meski merupakan wujud tanggungjawab sosial organisasi, tetap merupakan kegiatan PR.<br />
<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><strong>Penutup</strong><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan wacana yang sedang mengemuka di dunia bisnis atau perusahaan. </span><span lang="SV">Wacana ini digunakan oleh perusahaan dalam rangka mengambil peran menghadapi perekonomian menuju pasar bebas. </span><span lang="FI">Namun kenyatannya CSR tidak serta merta dipraktikkan oleh semua perusahaan. Ada juga yang berhasil memberikan materi riil kepada masyarakat, namun di ruang publik nama perusahaan gagal menarik simpati orang. Hal ini terjadi karena CSR dilakukan secara latah dan tidak didukung konsep yang baik. Sebenarnya substansi keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri di sebuah kawasan, dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholders yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Ketika kita membicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah organisasi, di mana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR pada dasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah CSR. Dengan menggunakan tahapan-tahapan dalam proses PR yang bersifat siklis, maka program dan kegiatan CSR juga dilakukan melalui pengumpulan fakta, perumusan masalah, perencanaan dan pemrograman, aksi dan komunikasi, serta evaluasi untuk mengetahui sikap publik terhadap organisasi.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Untuk ke depan disarankan agar pengembangan program CSR mengacu pada konsep pembangunan yang berkelanjutan (Sustainability development). Prinsip keberlanjutan ini mengedepankan pertumbuhan, khususnya bagi masyarakat miskin dalam mengelola lingkungannya dan kemampuan institusinya dalam mengelola pembangunan, serta strateginya adalah kemampuan untuk mengintegrasikan dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial yang menghargai kemajemukan ekologi dan sosial budaya. Kemudian dalam proses pengembangannya tiga stakeholders inti diharapkan mendukung penuh, di antaranya adalah; perusahaan, pemerintah dan masyarakat.<br />
<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><strong>Daftar Pustaka</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Anggoro, Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan. Serta Aplikasinya di Indonesia. Cetakan Ketiga. Bumi Aksara, Jakarta.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Ardianto, Elvinaro dan Sumirat, Soleh. 2004. Dasar-dasar Public Relations. Cetakan Ketiga. </span><span lang="SV">Remaja Rosdakarya, Bandung.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Aryani, Situ Nur. 2006. Penerapan CSR yang Lebih Strategis. Dokumen </span><a href="http://www.bisnis.com/"><span style="color:windowtext;" lang="SV">http://www.bisnis.com/</span></a><span lang="SV">, Sabtu, 01 April 2006.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Fajar, Rudi. 2005. Spektrum Pelaku CSR. Dokumen </span><a href="http://www.swa.co.id/"><span style="color:windowtext;" lang="SV">http://www.swa.co.id/</span></a><span lang="SV"> , Senin, 30 Mei 2005.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Greener, Toni. 2002. Public Relations dan Pembentukan Citranya. Cetakan Ketiga. Bumi Aksara, Jakarta.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hubeis, Musa. 2001. Publik Relesen sebagai Perangkat Manajemen dalam Organisasi. Makalah Seminar Nasional Peran Public Relations dalam Pembangunan Pertanian Efektif dan Berkesinambungan, yang diselenggarakan oleh PS KMP dan PS MPI, PPS IPB di Hotel Salak, 19 April 2001.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hutapea, EB. 2000. Public Relations sebagai Fungsi Manajemen. Majalah WIDYA Agustus 2000, No. 179 Tahun XVII.<br />
Idris, Abdul Rasyid. 2005. Corporate Social Responsibility (CSR) Sebuah Gagasan dan Implementasi. Dokumen </span><a href="http://www.fajar.co.id/"><span style="color:windowtext;" lang="SV">http://www.fajar.co.id/</span></a><span lang="SV">, 22 November 2005.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Irianta, Yosal. 2004. Community Relations. Konsep dan Aplikasinya. Simbiosa Rekatama Media, Bandung.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Jefkins, Frank. 2003. Public Relations. Edisi Kelima. Direvisi Oleh Daniel Yadin. Penerbit Erlangga, Jakarta.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Lead Indonesia. 2005. Kemitraan Korporasi-Stakeholders. Report Seminar Corporate-Stakeholder Partnership: Toward Productive Relations Lead Indonesia Bekerjasama dengan Labsosio-Fisip-UI, Jakarta, 14 Juni 2005.</span> Dokumen <a href="http://www.lead.or.id/"><span style="color:windowtext;">http://www.lead.or.id/</span></a>, 27 Oktober 2005.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">News of PERHUMAS. 2004. CSR dan Citra Corporate. <span lang="IT">Dokumen </span><a href="http://www.perhumas.or.id/"><span style="color:windowtext;" lang="IT">http://www.perhumas.or.id/</span></a><span lang="IT">, 15 &#8211; 16 Juni 2004.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Octavia, Sutjiati. 2003. Corporate Public Relation dalam Dunia Usaha. Majalah Bank &amp; Manajemen, Mei – Juni 2003.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Petkoski, Djordjija and Twose, Nigel (Ed). 2003. </span>Public Policy for Corporate Social Responsibility. Jointly sponsored by The World Bank Institute, the Private Sector Development Vice Presidency of the World Bank, and the International Finance Corporation. Document of <a href="http://info.worldbank.org/"><span style="color:windowtext;">http://info.worldbank.org/</span></a> July 7–25, 2003.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Warta Pertamina. 2004. CSR sebagai Strategi Bisnis. Dokumen <a href="http://www.pertamina.com/"><span style="color:windowtext;">http://www.pertamina.com/</span></a>, Juli 2004.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em>Tulisan ini rangkuman makalah penulis saat saat mengambil mata kuliah Public Relations (PR) di Program Magister Komunikasi Pembangunan, Institut Pertanian Bogor (IPB).</em></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=179&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/15/peran-pr-dalam-membangun-citra-perusahaan-melalui-program-csr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/community-globe2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">community-globe2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penulisan Press Release</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/14/penulisan-press-release/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/14/penulisan-press-release/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 08:39:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Public Relations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[
Press Release atau siaran pers menurut Soemirat dan Ardianto (2004) adalah informasi dalam bentuk berita yang dibuat oleh Public Relations (PR) suatu organisasi/ perusahaan yang disampaikan kepada pengelola pers/ redaksi media massa (tv, radio, media cetak, media online) untuk dipublikasikan dalam media massa tersebut.


Meskipun semua press release yang dibuat PR memiliki format yang sama, sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=167&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br />
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"><a href="http://www.tiptoncommunications.com"><img class="alignright size-medium wp-image-169" title="public-relations" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/public-relations.gif?w=159&#038;h=182" alt="public-relations" width="159" height="182" /></a>Press Release</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> atau siaran pers menurut Soemirat dan Ardianto (2004) adalah informasi dalam bentuk berita yang dibuat oleh <em>Public Relations </em>(PR) suatu organisasi/ perusahaan yang disampaikan kepada pengelola pers/ redaksi media massa (tv, radio, media cetak, media online) untuk dipublikasikan dalam media massa tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span id="more-167"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Meskipun semua <em>press release</em> yang dibuat PR memiliki format yang sama, sebenarnya memiliki perbedaan penekanan pada informasinya yaitu: </span></p>
<ul>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Basic Press Release </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">mencakup berbagai informasi yang terdapat di dalam suatu organisasi/ perusahaan yang memiliki berbagai nilai berita untuk media lokal, regional atau pun nasional; </span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Product Release </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">mencakup transaksi tentang target suatu produk khusus atau produk reguler lainnya untuk suatu publikasi perdagangan di dalam suatu industri; </span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Financial Release </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">digunakan terutama dalam membina hubungan dengan pemegang saham.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Penulisan <em>press release</em> layak muat apabila cara menulisnya seperti halnya wartawan menulis berita langsung (<em>straight news</em>) dengan gaya piramida terbalik (<em>inverted pyramid</em>). Dimulai dengan membuat <em>lead</em>/ teras berita/ kepala berita sebagai paragraf pertama yang mengandung unsur 5W + 1H (<em>What: </em>apa yang terjadi? <em>Where: </em>dimana terjadinya? <em>When: </em>kapan peristiwa tersebut terjad? <em>Who: </em>siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut? <em>Why: </em>mengapa peristiwa tersebut terjadi? <em>How: </em>bagaimana berlangsungnya peristiwa tersebut?).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;letter-spacing:-.2pt;" lang="IN">Penulisan dengan gaya piramida terbalik ini digunakan dengan alasan: <em>Pertama</em>, pembaca dikategorikan sebagai orang sibuk dan mempunyai waktu yang singkat untuk mendapatkan berita-berita yang faktual. <em>Kedua</em>, redaksi media massa harus memotong <em>Press Release</em><span> </span>tersebut tanpa mengurangi isi pokoknya. <em>Ketiga</em>, redaksi tidak mempunyai cukup waktu untuk membaca keseluruhan <em>Press Release. </em>Sebelum redaksi memutuskan dibuang atau dipakai <em>release </em>tersebut, mereka harus tahu dengan cepat apa keseluruhan isi <em>release</em> itu (Cole dalam Soemirat dan Ardianto, 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Setelah menulis <em>lead </em>sebagai paragraf pertama, kembangkan <em>lead </em>itu dalam paragraf kedua untuk menjelaskan atau mendukung paragraf pertama yang perlu dijelaskan atau mendukung paragraf pertama yang perlu dijelaskan. Kemudian masuk kepada tubuh berita. Penulisan dengan gaya piramida terbalik ini berarti menulis berita dari mulai yang sangat penting (<em>lead</em>) sampai kepada semakin tidak penting. Sedangkan judul diambil dari <em>lead </em>(berita yang sangat penting tadi).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Mappatoto (1993) menggambarkan struktur piramida terbalik dalam pembuatan siaran pers sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;letter-spacing:-.2pt;" lang="IN"> <img class="aligncenter size-medium wp-image-168" title="prrr" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/prrr.jpg?w=338&#038;h=210" alt="prrr" width="338" height="210" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Di sini dijelaskan bahwa judul berfungsi sebagai etalase berita yang harus ditulis dengan bahasa yang jernih sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. Baris tanggal adalah ruang untuk menunjukkan tempat berita dibuat dan tanggal pembuatan berita. Sebaris dengan “creditline” yang menunjukkan jati diri media. Alinea pertama dari berita disebut pusat perhatian maksimal atau teras, atau <em>lead</em>, atau <em>intro</em> dari berita yang dapat disarikan untuk dijadikan judul berita. Isi teras berisi jawaban semua unsur 5 W + 1 H (disebut teras formal) atau jawaban dari dua atau tiga unsur saja (teras informal). Sesudah teras bagian berikutnya disebut Tubuh Berita, tempat menguraikan lebih lanjut unsur-unsur tersebut. Latar berita merupakan keteranga yang akan memperjelas unsur “siapa, apa, dimana, mengapa, dan bagaimana”. Sedangkan bagian rangkuman sebenarnya merupakan latar yang berisi “catatan dibuang sayang” dari suatu peristiwa. Bagian ini dapat dipotong kalau ruangan tidak mengijinkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Austin (1996) menyarankan agar PR membaca surat kabar––lokal dan nasional––dan mempelajari gaya bahasa yang mereka gunakan. Tulislah siaran pers dengan gaya surat kabar yang akan dikirimi tulisan tersebut. Siaran pers yang ditulis harus meniru gaya artikel dalam surat kabar itu. Sebagai contoh bila mereka selalu mencetak nama lengkap gunakan nama lengkap dan bukannya singkatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Untuk menarik perhatian pembaca, Austin menjelaskan beberapa aturan dasar yang biasa digunakan wartawan untuk menarik perhatian pembaca. Aturan tersebut juga berlaku ketika menulis siaran pers, yaitu:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Memilih judul yang positif (aktif) dan bukannya pasif.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Paragraf pertama (<em>lead</em>) harus tajam dan ringkas; antara 12 sampai 20 kata merupakan ukuran yang ideal. </span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Usahakan supaya kalimat dan paragraf pendek-pendek.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hindari kata yang berlebihan seperti “ini” dan “itu”, serta kata keterangan dan kata sifat yang tidak perlu. Anda tidak perlu mengatakan bahwa sesuatu “hebat” atau “fantastis”. Kalau itu sehebat yang anda nyatakan, maka akan jelas dengan sendirinya dari teks yang anda tulis.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hindari kata-kata panjang karena kolom surat kabar sempit. </span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hindari istilah khusus dan penggunaan singkatan.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jawab enam pertanyaan ––<em>siapa, mengapa, apa, bilamana, di mana dan bagaimana</em>. Kalau anda tidak menjawab keenam pertanyaan ini maka siaran pers anda tidak berisi semua informasi yang diperlukan wartawan.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jangan menulis awal, bagian tengah dan akhir. Masukkan semua butir yang penting pada awal siaran pers. Kalau artikelnya terlalu panjang mereka akan memotongnya dari bawah dan jika Anda meletakkan butir-butir yang paling penting pada akhir berita, maka bagian itu tidak akan termuat.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tulislah berita dan bukan pandangan (harus berdasarkan fakta).</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Selalu periksa kembali ejaan nama orang.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ketiklah siaran pers hanya pada satu sisi kertas saja dengan spasi rangkap. Berikan margin yang cukup pada semua sisi halaman.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Selalu beri tanggal pada siaran pers.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Selalu cantumkan nama kontak dan nomor telepon di siang hari pada bagian bawah siaran.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Buatlah siaran pers sesingkat mungkin. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Berkaitan dengan <em>press release</em> Jefkins (2003) mengungkapkan hal-hal terpenting perihal pers yang harus diketahui oleh seorang praktisi PR:</span></p>
<ul>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kebijakan editorial</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">. Hal ini mengungkapkan pandangan dasar dari suatu media yang dengan sendirinya akan melandasi pemilihan subjek-subjek yang akan dicetak atau yang akan diterbitkannya. Selain itu aturan keredaksian dan aturan kewartawanan juga perlu diketahui PR dalam menulis dan mengirimkan <em>press release</em>.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Frekuensi penerbitan</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">. Setiap terbitan punya frekuensi penerbitan yang berbeda-beda, bisa harian, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan. Hal itu perlu diketahui oleh para praktisi PR, sehingga dapat menyesuaikan diri dalam pembuatan <em>press release</em>.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tanggal/tenggat terbit</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">. Kapan tanggal dan saat terakhir sebuah naskah harus diserahkan ke redaksi untuk penerbitan yang akan datang? Hal ini ditentukan oleh frekuensi dan proses percetakannya. Hal ini penting diketahui praktisi humas karena kerap kali siaran pers yang dikirimkan tidak bisa termuat karena terganjal oleh tenggat terbit.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Proses percetakan</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">. Hal ini wajib diketahui oleh praktisi humas sehingga pemuatan <em>press release </em>bisa sesuai dengan yang hiharapkan.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Daerah sirkulasi. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Apakah jangkauan sirkulasi dari suatu media itu berskala lokal, pedesaan, perkotaan, nasional atau internasional. Hal ini dinilai sangat penting agar pesan yang disampaikan efektif dan efisien.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jangkauan pembaca. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Berapa dan siapa saja yang membaca jurnal atau media yang bersangkutan? Seorang praktisi PR juga dituntut untuk mengetahui kelompok usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, minat khusus, kebangsaan, etnik, agama, hingga ke orientasi politik dari suatu khalayak pembaca media.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Metode distribusi. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Praktisi PR juga perlu mengetahui metode-metode distribusi suatu media, apakah eceran atau langganan. Kemudian ihwal tiras juga patut diketahui dalam upaya efektivitas dan efisiensi komunikasi yang dijalankan. </span></li>
</ul>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Abdullah (2000) mengatakan bahwa yang dinomorsatukan oleh wartawan atau redaktur dalam menilai sebuah peristiwa yang akan menjadi berita adalah nilai jurnalistiknya. Hal serupa diberlakukan pula kepada rilis yang masuk yang dikirimkan oleh lembaga humas, atau materi sebuah jumpa pers, juga kegiatan khusus (<em>special event</em>) hingga hasil wawancara dengan narasumber. Meskipun nilai jurnalistik masing-masing media relatif berbeda, para praktisi media massa di seluruh dunia memiliki patokan unsur-unsur yang memiliki nilai jurnalistik, yaitu: aktualitas, kedekatan (<em>proximity</em>), penting, keluarbiasaan, ketegangan, konflik atau pertentangan, seks, kemajuan, emosi, dan humor. Kemudian ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengiriman <em>press release</em>:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kirimkan secepat mungkin. Artinya, jika kegiatan berlangsung hari itu, kirimkan hari itu juga. Jangan menunda hingga esok harinya, kecuali jika pelaksanaannya adalah malam hari.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jika pengirim siaran pers sudah mengenal nama wartawan sesuai bidangnya, tujukanlah pada wartawan tadi.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pengiriman bisa pula melalui faksimili (atau <em>e-mail</em>).</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jika melampirkan foto atau cetakan berwarna atau contoh produk, lebih baik melalui kurir.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Konfirmasikan kembali melalui telepon, apakah siaran pers tadi sudah diterima atau belum.</span></li>
</ul>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Adakalanya siaran pers ini melengkapi acara jumpa pers atau konferensi pers sehingga para kuli tinta tidak salah mengutip pernyataan atau data yang ada. Karena itulah menurut Abdullah (2000) ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan konferensi pers atau jumpa pers:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jangan mengundang wartawan secara mendadak karena biasanya wartawan sudah memiliki jadwal kerja yang padat.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hargailah waktu wartawan, jangan menunda waktu yang telah dijadwalkan.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jangan mengundurkan waktu hanya karena ada wartawan yang belum datang.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Wartawan paling menyukai acara jumpa pers pagi hari.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hindari jumpa pers pada hari libur.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hindari jumpa pers yang jaraknya sangat jauh.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jika ingin suasana santai, jumpa pers bisa pula di rumah makan atau tempat rileks lainnya.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hadirkanlah orang yang mempunyai kredibilitas sehingga menambah bobot acara jumpa pers.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jangan “mengusir” wartawan yang datang tidak diundang sejauh ia betul-betul membutuhkan informasi untuk berita.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sediakan bahan-bahan atau data tertulis sebagai pelengkap tulisan/ berita yang akan ditulis wartawan. Apakah itu proposal, brosur, rilis dan lain-lain.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Masukkan bahan-bahan tadi dalam map atau amplop.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jika akan memberi cinderamata atau uang transportasi, masukkanlah ke dalam amplop besar atau map tadi.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hindari jumpa pers satu arah. Berilah kesempatan wartawan untuk bertanya.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jangan heran apabila dalam kesempatan itu wartawan akan bertanya pula tentang materi lain di luar materi yang dijumpaperskan.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hindari jawaban “<em>No Comment</em>” dalam diskusi, sebab jawaban ini mengesankan pembenaran dari pernyataan wartawan.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Khusus dalam <em>Press Briefing</em> karena dilakukan secara reguler dalam kegiatan besar, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:</span></li>
</ul>
<ol>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Susunlah jadwal yang pasti, siapa yang tampil sebagai narasumber dan siapkan data yang akurat.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Konfirmasikan dahulu, apakah narasumber yang akan ditambilkan itu bersedia muncul dalam pertemuan dengan wartawan.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Siapkan bahan-bahan tertulis dalam <em>press room </em>yang disediakan.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Buatlah jurnal harian yang akurat dan lengkap.</span></li>
<li><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sediakan <em>press room </em>yang memadai yang dilengkapi dengan berbagai sarana komunikasi dan pengetikan</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">PR Online</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">PR<strong> </strong>Online<strong> </strong>atau biasa disebut E-PR muncul ketika internet memainkan peranan penting dalam perkembangan ICT (<em>Information and Communication Technologies</em>). Sehingga kalangan bisnis memandang internet bisa menjadi media komunikasi strategis untuk menjalankan fungsi PR dalam organisasi. E-PR kemudian menjadi tantangan baru bagi strategi PR yang selama ini dilakukan secara offline.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Istilah E-PR merupakan bentuk penerapan perangkat ICT untuk kegiatan PR. Seperti menyebarkan <em>press release</em>, membangun komunikasi dengan <em>stakeholders</em>, mempublikasikan kegiatan perusahaan dan sebagainya. Saat ini parktisi PR mau tidak mau harus memanfaatkan ICT untuk menjalankan komunikasi yang efektif dan efisien. Mengirimkan <em>press release </em>kini tidak lagi melalui pos atau fax, tapi cukup melalui email. Sejumlah korporat yang memiliki <em>website</em> dan dikelola dengan baik, juga mempublikasikan <em>press release</em> di <em>website</em>-nya, sehingga media tinggal men-<em>download</em>. Misalnya di www.bi.go.id, www.pertamina.com, www.depdag.com, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saat ini praktisi PR dituntut bisa memposisikan diri dalam E-PR. Sehingga sumber daya manusia yang dibutuhkan korporat adalah orang yang handal berselancar di dunia maya dan tahu ke mana saja mereka harus berselancar untuk membangun <em>corporate image</em>. Seperti dikatakan pakar bisnis dan ICT BJ Onggo, seorang praktisi E-PR harus mampu mengembangkan <em>content</em> untuk format distribusi apa saja (media cetak, radio, TV, situs web, e-mail, iTV, PDA, WAP, Usenet dan sejenisnya) agar dapat dengan tepat menjangkau berbagai macam <em>audiens.</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berikut ini beberapa manfaat yang diperoleh organisasi bila menerapkan E-PR:</span></p>
<ul>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Real time. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aktivitas komunikasi bisa dilakukan dengan cepat </span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Komunikasi konstan.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Karena E-PR menggunakan internet maka internet ibarat sekretaris yang tidak pernah tidur selama 24 jam dengan potensi target publik seluruh dunia.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Interaktif. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penggunaan E-PR memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, karena publik bisa memberikan<em> feedback </em>secara langsung dan cepat.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">No boundaries.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Tidak ada batasan komunikasi dalam E-PR, sehingga bisa terhubung ke mana saja selama ada jaringan internet.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Multi media.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> E-PR dapat menyajikan informasi kepada publik dengan menggabungkan berbagai media seperti tulisan (script), gambar (grafis), dan suara (audio), bahkan audio-visual (film, video) dalam satu kesatuan.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ekonomis. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Komunikasi menggunakan internet untuk menjangkau publik yang luas lebih murah daripada media konvensional.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Beberapa perangkat yang sering digunakan dalam E-PR:</span></p>
<ul>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Email. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Biasanya untuk mengirimkan surat-surat elektronik, press release, dan informasi lainnya.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Milis atau mailing list</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Berisi kumpulan alamat email yang saling terhubung untuk membentuk komunitas tertentu. Misalnya antara organisasi dengan publik.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Website. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk mempublikasikan berbagai informasi tentang organisasi kepada publik, baik itu profil, berita, <em>press release,</em> dan informasi penting lainnya.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jejaring Sosial.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Membangun hubungan dengan audiens bisa menggunakan situs jejaring sosial seperti <em>friendster, facebook</em>, dan lain-lain.</span></li>
<li><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">E-Bussiness Card</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">. Kartu bisnis elektronik bisa dikirimkan ke banyak audiens.</span></li>
</ul>
<h1><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Referensi</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.75pt;text-align:justify;text-indent:-35.75pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Abdullah, Aceng. 2000. <em>Press Relations. Kiat Berhubungan dengan Media Massa</em>. Remaja Rosdakarya, Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.75pt;text-align:justify;text-indent:-35.75pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Austin, Claire. 1996. <em>Public Relations yang Sukses dalam Sepekan</em>. Megapoin, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.75pt;text-align:justify;text-indent:-35.75pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jefkins, Frank. 2003. <em>Public Relations. </em>Edisi Kelima<em>. </em>Direvisi Oleh Daniel Yadin. Penerbit Erlangga, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.75pt;text-align:justify;text-indent:-35.75pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Mappatoto, Andi B. 1993. <em>Siaran Pers. Suatu Kiat Penulisan.</em> Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.75pt;text-align:justify;text-indent:-35.75pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Soemirat, Soleh dan Ardianto, Elvinaro. 2004. <em>Dasar-dasar</em> <em>Public Relations. </em>Cetakan Ketiga. Remaja Rosdakarya, Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.75pt;text-align:justify;text-indent:-35.75pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Beberapa sumber lainnya yang relevan</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=167&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/14/penulisan-press-release/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/public-relations.gif?w=262" medium="image">
			<media:title type="html">public-relations</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/prrr.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">prrr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Citizen Journalism</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/13/citizen-journalism/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/13/citizen-journalism/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 03:29:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapita Selekta JR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[
Dirgahayu dalam Jurnal Observasi (2007) menyebutkan, saat ini pers berada dalam situasi di mana pengertian wartawan dan media mengalami pergeseran penting sebagai akibat dari perkembangan dua hal, yaitu perkembangan jurnalistik dan perkembangan media. Dunia jurnalistik kini mengalami perubahan. Dulu, reportase adalah tugas khusus yang dibebankan kepada wartawan atau reporter media massa. Sekarang setiap warga bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=160&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://www.mathewingram.com"><img class="alignleft size-full wp-image-163" title="citizen-media2" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/citizen-media2.jpg?w=140&#038;h=186" alt="citizen-media2" width="140" height="186" /></a>Dirgahayu dalam Jurnal Observasi (2007) menyebutkan, saat ini pers berada dalam situasi di mana pengertian wartawan dan media mengalami pergeseran penting sebagai akibat dari perkembangan dua hal, yaitu perkembangan jurnalistik dan perkembangan media. Dunia jurnalistik kini mengalami perubahan. Dulu, reportase adalah tugas khusus yang dibebankan kepada wartawan atau reporter media massa. Sekarang setiap warga bisa melaporkan peristiwa kepada media. Inilah yang kemudian disebut<span> </span><em>citizen journalism</em>, participatory <em>journalism, </em>atau ada juga yang menyebutkan<em> open source journalism.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span id="more-160"></span><br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Citizen journalism</em> atau jurnalisme warga merupakan kegiatan dimana peran wartawan atau kegiatan jurnalistik bisa dilakukan oleh masyarakat yang secara formal bukan wartawan. Kegiatan yang dilakukannya sama dengan wartawan pada umumnya, yakni mengumpulkan informasi, menulis berita, mengedit dan menyiarkannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam menyiarkan informasinya, <em>citizen journalism</em> bisa dilakukan dengan mengirim tulisannya kepada media massa seperti koran atau media online, kemudian redaksi memutuskan apakah tulisan tersebut layak atau tidak untuk dipublikasikan melalui media massanya. Cara lain yang bisa dilakukan menggunakan blog, di sini <em>citizen journalism</em> bisa juga disebut sebagai blogger. Tapi tidak semua blogger merupakan <em>citizen journalist.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Yenti dkk di Blogdetik (2008] menulis peran dan fungsi <em>citizen journalism</em> sama seperti peran dan fungsi jurnalistik pada umumnya, yaitu sebagai sumber informasi, hiburan, kontrol sosial, hingga agen perubahan. Dengan adanya <em>citizen journalism</em> jaringan informasi dan sumber informasi akan lebih luas. Bahkan <em>citizen journalism </em>sering menjadi sumber informasi penting untuk media <em>mainstream.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika wartawan tidak selalu tahu semua informasi maka dengan adanya <em>citizen journalism</em>, informasi tersebut dapat sampai kepada masyarakat melalui media massa. <em>Citizen journalism</em> juga sering dimanfaatkan perusahaan media massa sebagai salah satu sumber berita disamping wartawan yang bekerja pada perusahaan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Perkembangan Teknologi dan Peluang <em>Citizen Journalism</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Citizen journalism berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi, media terutama internet. Karena setiap orang kini bisa menulis dan menyampaikan tulisannya kepada khalayak dengan mudah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Aurelia dkk di Blogdetik (2008] mencatat, saat ini di Indonesia <em>citizen journalism </em>berkembang dengan cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya blog yang ada di Indonesia dan dibuat oleh masyarakat Indonesia. Keberadaan blog tersebut telah menandakan <em>citizen journalism </em>merupakan satu fenomena yang diminati dan akan terus berkembang dalam masyarakat. Keterbukaan dalam hal pengaksesan ataupun penyampaian informasi yang dimiliki oleh <em>citizen journalism</em> yang seiring dengan perkembangan jurnalisme online yang terus meningkat, menyebabkan keberadaan <em>citizen journalism</em> akan terus eksis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Berkembangnya jurnalisme online di Indonesia saat ini, dapat semakin menguatkan perkembangan <em>citizen journalism</em>. Dalam <em>citizen journalism</em>, masyarakat dapat membahas hal-hal yang tengah ‘hangat’ dalam masyarakat dalam segala aspek. Kini, minat masyarakat pada jurnalisme online terus meningkat. Jurnalisme online telah menjadi prioritas bagi masyarakat dalam mengakses informasi. Hal ini menyebabkan perkembangan dari<em> citizen journalism </em>akan terus meningkat. Fungsi dari jurnalisme online tidak hanya sebagai alat uintuk mendapat informasi, tetapi juga dapat sebagai pertukaran informasi para penggunanya, dimana para penggunanya bersifat heterogen. </span>Hal ini dapat menjadi kekuatan dari <em>citizen journalism</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain kekuatan yang dimiliki <em>citizen journalism</em>, dimana <em>citizen journalism </em>memungkinkan masyarakat dapat bertukar informasi mengenai suatu hal yang dapat membuat masyarakat semakin terbuka wawasannya, <em>citizen journalism </em>juga memiliki kendala yang sulit dihindari yang otomatis dapat menjadi tantangan bagi keberadaan <em>citizen journalism</em> ke depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sifat <em>citizen journalism</em> yang memungkinkan semua pengakses internet dapat memasukkan informasi yang ia miliki melalui internet, dapat menyebabkan keadaan semacam ’penyalahgunaan wewenang’ oleh pengakses. Tidak adanya batasan yang jelas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimasukkan dalam internet telah membuat situs dan blog memuat informasi yang tidak seharusnya. Contoh: Blog yang menjelek-jelekkan pihak/lembaga tertentu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain tidak adanya batas yang jelas, hal lain yang dapat menjadi tantangan dalam <em>citizen journalism </em>adalah masyarakat atau orang-orang yang memasukkan informasi melalui internet tidak harus melalui pendidikan jurnalisme terlebih dahulu. Dalam <em>citizen journalism</em>, semua orang dapat menjadi wartawan. Oleh sebab itu, terkadang berita yang dimuat terkadang tidak sesuai dengan aturan penulisan berita atau etika jurnalisme yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Etika Citizen Journalism</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Blogger senior dan praktisi komunikasi Wimar Witoelar pernah mengungkapkan, blog boleh dibilang bersifat komunal. Di dunia blog, transparansi dan akuntabilitas menjadi kata kunci. Seorang penulis blog tidak lagi dianggap yang paling tahu. Pendapat-pendapatnya bisa dikritisi oleh siapa pun lantaran sifat blog yang transparan. Inilah paradigma baru dari blog. Melalui blog akan tercipta <em>citizen journalism</em>, di mana setiap orang bebas berpendapat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Karena itu, menjadi <em>citizen journalist </em>juga ada etikanya. Etika <em>citizen journalism </em>kurang lebih sama dengan etika menulis di media online. Di antaranya sebagai berikut:</span></p>
<ul>
<li><span lang="SV">Tidak menyebarkan berita bohong</span></li>
<li><span lang="SV">Tidak mencemarkan nama baik</span></li>
<li><span lang="SV">Tidak memicu konflik SARA</span></li>
<li><span lang="SV">Tidak memuat konten pornografi</span></li>
<li><span lang="SV">Dll</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Tugas untuk mahasiswa (kelompok 9):</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ambil intisari tulisan ini kemudian kembangkan dalam bentuk makalah antara 7-10 halaman spasi 1,5. Cari sumber-sumber tulisan yang relevan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Carilah kliping berita dari <em>citizen journalist</em> dari media online dan media cetak. Kemudian analisis/ komentari dan bandingkan dengan sudut pandang pembahasan materi ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Presentasikan dan diskusikan pada kuliah sesuai jadwal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Makalah serta kliping dan analisis berita media cetak dijilid dan dikumpulkan.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=160&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2009/01/13/citizen-journalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2009/01/citizen-media2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">citizen-media2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Online Journalism</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2008/12/16/online-journalism/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2008/12/16/online-journalism/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 05:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapita Selekta JR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[
Online Journalism
Jurnalisme dalam KBBI disebut sebagai pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan melaporkan berita kepada khalayak. Dalam perkembangannya, media penyampaian berita kepada pembaca tidak hanya terbatas pada surat kabar. Tetapi seiring perkembangan teknologi, kini arah perkembangan media menuju persaingan media online. Media online bisa menampung berita teks, image, audio dan video. Berbeda dengan media cetak, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=149&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV"><img class="alignright size-medium wp-image-153" title="online-jiurnalism1" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2008/12/online-jiurnalism1.jpg?w=180&#038;h=240" alt="online-jiurnalism1" width="180" height="240" />Online Journalism</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Jurnalisme dalam KBBI disebut sebagai pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan melaporkan berita kepada khalayak. Dalam perkembangannya, media penyampaian berita kepada pembaca tidak hanya terbatas pada surat kabar. Tetapi seiring perkembangan teknologi, kini arah perkembangan media menuju persaingan media online. </span><span lang="ES-TRAD">Media online bisa menampung berita teks, image, audio dan video. </span><span lang="SV">Berbeda dengan media cetak, yang hanya menampilkan teks dan image. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span id="more-149"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">”Online” sendiri merupakan bahasa internet yang berarti informasi dapat diakses di mana saja dan kapan saja selama ada jaringan internet. Jurnalisme online ini merupakan perubahan baru dalam ilmu jurnalistik. Laporan jurnalistik dengan menggunakan teknologi internet, disebut dengan media online, yang menyajikan informasi dengan cepat dan mudah diakses di mana saja. </span><span lang="IT">Dengan kata lain, berita saat ini bisa di baca saat ini juga, di belahan bumi mana saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Menurut Satrio Arismunandar (2006), orang yang memproduksi content terutama untuk Internet, dan khususnya untuk World Wide Web, dapat dianggap bekerja untuk salah satu atau lebih dari empat jenis Jurnalisme Online yang tersebut di bawah ini.<br />
</span><span lang="SV">Berbagai jenis jurnalisme online itu dapat ditempatkan di antara dua domain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Domain pertama,</span></strong><span lang="SV"> adalah suatu rentangan, mulai dari situs yang berkonsentrasi pada editorial content sampai ke situs-situs Web yang berbasis pada konektivitas publik (public connectivity). Editorial content diartikan di sini sebagai teks (termasuk kata-kata yang tertulis atau terucapkan, gambar-gambar yang diam atau bergerak), yang dibuat atau diedit oleh jurnalis.<span> </span>Sedangkan konektivitas publik dapat dipandang sebagai komunikasi ”titik-ke-titik yang standar” (standard point-to-point). Atau, bisa juga kita nyatakan sebagai komunikasi ”publik” tanpa perantaraan atau hambatan (barrier of entry), misalnya, hambatan dalam bentuk proses penyuntingan (editing) atau moderasi (moderation).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Domain kedua,</span></strong><span lang="SV"> melihat pada tingkatan komunikasi partisipatoris, yang ditawarkan oleh situs berita bersangkutan. Sebuah situs dapat dianggap terbuka (open), jika ia memungkinkan pengguna untuk berbagi komentar, memposting, mem-file (misalnya: content dari situs tersebut) tanpa moderasi atau intervensi penyaringan. Sedangkan komunikasi partisipatoris tertutup (closed) dapat dirumuskan sebagai situs di mana pengguna mungkin berpartisipasi. Namun langkah komunikatif mereka harus melalui kontrol editorial yang ketat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Berikut ini empat jenis jurnalisme online yang dikemukakannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>1. Mainstream News sites</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bentuk media berita online yang paling tersebar luas adalah situs mainstream news. Situs ini menawarkan pilihan editorial content, baik yang disediakan oleh media induk yang terhubung (linked) dengannya atau memang sengaja diproduksi untuk versi Web. Tingkat komunikasi partisipatorisnya adalah cenderung tertutup atau minimal. Contoh: situs CNN, BBC, MSNBC, serta berbagai suratkabar online. Situs berita semacam ini pada dasarnya tak punya perbedaan mendasar dengan jurnalisme yang diterapkan di media cetak atau siaran, dalam hal penyampaian berita, nilai-nilai berita, dan hubungan dengan audiences. Di Indonesia, yang sepadan dengan ini adalah detik.com, Astaga.com, atau Kompas Cyber Media.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>2. Index &amp; Category sites</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jenis jurnalisme ini sering dikaitkan dengan mesin pencari (search engines) tertentu (seperti Altavista atau Yahoo), perusahaan riset pemasaran (seperti Moreover) atau agensi (Newsindex), dan kadang-kadang bahkan individu yang melakukan usaha (Paperboy). Di sini, jurnalis online menawarkan links yang mendalam ke situs-situs berita yang ada di manapun di World Wide Web. Links tersebut kadang-kadang dikategorisasi dan bahkan diberi catatan oleh tim editorial. Situs-situs semacam ini umumnya tidak menawarkan banyak editorial content yang diproduksi sendiri, namun terkadang menawarkan ruang untuk chatting atau bertukar berita, tips dan links untuk publik umum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>3. Meta &amp; Comment sites</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini adalah situs tentang media berita dan isu-isu media secara umum. Kadang-kadang dimaksudkan sebagai pengawas media (misalnya: Mediachannel, Freedomforum, Poynter’s Medianews). Kadang-kadang juga dimaksudkan sebagai situs kategori dan indeks yang diperluas (seperti: European Journalism Center Medianews, Europemedia). Editorial content-nya sering diproduksi oleh berbagai jurnalis dan pada dasarnya mendiskusikan content lain, yang ditemukan di manapun di Internet. Content semacam itu didiskusikan dalam kerangka proses produksi media. ”Jurnalisme tentang jurnalisme” atau meta-journalism semacam ini cukup menjamur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>4. Share &amp; Discussion sites</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini merupakan situs-situs yang mengeksploitasi tuntutan publik bagi konektivitas, dengan menyediakan sebuah platform untuk mendiskusikan content yang ada di manapun di Internet. Dan kesuksesan Internet pada dasarnya memang disebabkan karena publik ingin berkoneksi atau berhubungan dengan orang lain, dalam tingkatan global yang tanpa batas.<br />
Situs semacam ini bisa dibilang memanfaatkan potensi Internet, sebagai sarana untuk bertukar ide, cerita, dan sebagainya. Kadang-kadang dipilih suatu tema spesifik, seperti: aktivitas anti-globalisasi berskala dunia (situs Independent Media Centers, atau umumnya dikenal sebagai Indymedia), atau berita-berita tentang komputer (situs Slashdot).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;">Jurnalisme masa depan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jurnalisme online layak disebut dengan jurnalisme masa depan. Karena perkembangan teknologi memungkinkan orang membali perangkat pendukung akses internet praktis seperti <em>notebook</em> atau <em>netbook</em> dengan harga murah. Apalagi kalau koneksi internet mudah diperoleh secara terbuka seperti hotspot (WiFi) di ruang-ruang publik. Sehingga minat masyarakat terhadap media bisa bergeser dari media cetak ke media online. Hal itupun sekarang mulai terjadi. Bahkan beberapa media cetak besar di Amerika Serikat, seperti kelompok Chicago Tribune, mulai merugi dan terancam gulung tikar. Karena masyarakat mulai beralih ke media online.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="SV">Cyber media dan perkembangan teknologi</span></strong><span style="color:black;" lang="SV"> <strong>komunikasi</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Perkembangan media tidak lepas dari perkembangan teknologi komunikasi. Kalau dulu orang hanya mengenal media cetak dan elektronik (televisi dan radio), kini seiring perkembangan teknologi komunikasi berbasis cyber, maka media pun mengikutinya dengan menjadikan internet sebagai media massa. Kini seiring perkembangan teknologi telepon seluler, berita-berita di internet juga bisa diakses melalui ponsel. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Mengapa jurnalisme online memagang peranan penting dalam perkembangan media massa saat ini? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">a. Jurnalisme online membawa nilai egaliter.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Setiap individu bebas merealisasikan sumber dayanya dari mengerahkan segala potensinya untuk menggapai semua bagian dalam menentukan jalan yang disenangi. </span>Setiap individu bebas memanfaatkan peluang berkomunikasi dengan siapa saja untuk mewarisi peradaban dunia dengan bebas dan mengaktualisasikan dirinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>b. Jurnalisme online membawa nilai liberal.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam jurnalisme online sangat menjunjung tinggi adanya kebebasan berpendapat serta berkumpul dan berserikat. Menurut paham liberal, ini merupakan kebebasan asasi yang dimiliki oleh setiap manusia. Selain itu posisi antara masyarakat dan negara adalah setara, dalam artian bahwa negara tidak boleh mencampuri urusan atau kehidupan masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Keuntungan (Karakteristik) Jurnalisme Online</span></strong><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Seperti tertulis dalam buku <em><span>Online Journalism. Principles and Practices of News for The Web</span></em> (Holcomb Hathaway Publishers, 2005), ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari jurnalisme online:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Audience Control</span></strong><strong><span>.</span></strong><span> Jurnalisme online memungkinkan audience untuk bisa lebih leluasa dalam memilih berita yang ingin didapatkannya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Nonlienarity</span></strong><strong><span>.</span></strong><span> Jurnalisme online memungkinkan setiap berita yang disampaikan dapat berdiri sendiri sehingga audience tidak harus membaca secara berurutan untuk memahami<br />
<strong>Storage and retrieval</strong>. Online jurnalisme memungkinkan berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah oleh audience</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Unlimited Space</span></strong><span>. Jurnalisme online memungkinkan jumlah berita yang disampaikan/ ditayangkan kepada audience dapat menjadi jauh lebih lengkap ketimbang media lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Immediacy</span></strong><span>. Jurnalisme online memungkinkan informasi dapat disampaikan secara cepat dan langsung kepada audience</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Multimedia Capability</span></strong><span>. Jurnalisme online memungkinkan bagi tim redaksi untuk menyertakan teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh audience</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Interactivity</span></strong><span>. Jurnalisme online memungkinkan adanya peningkatan partisipasi audience dalam setiap berita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Kelebihan media online:</span></strong></p>
<ul>
<li><span lang="FI">Mampu menyajikan berita dan informasi dalam waku yang sangat cepat</span></li>
<li><span lang="FI">Aktual, real time. Berita bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung. Karakter ini juga dimiliki media TV dan radio, namun kelebihan media online adalah mekanisme publikasi real time itu lebih leluasa, tanpa dibatasi periodisasi dan jadwal terbit atau jadwal siaran (program). Kapan dan di mana saja, maka wartawan media online mampu mempublikasikan berita.</span></li>
<li><span lang="SV">Leluasa dengan jadwal. Bisa diterbitkan dari mana saja dan kapan saja</span></li>
<li><span lang="SV">Berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah. Media online bisa menerbitkan dan mengarsip artikel-artikel untuk dapat dilihat kapan saja.</span></li>
<li><span lang="SV">Multimedia. Media online dapat menyajikan informasi lebih kaya ketimbang jurnalisme tradisional, yaitu bisa menggabungkan tulisan (script), gambar (grafis), dan suara (audio), bahkan audio-visual (film, video) dalam satu kesatuan.</span></li>
<li><span lang="SV">Memberi pilihan pada publik untuk memberi tanggapan, berinteraksi, atau bahkan meng-customize (menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan publik bersangkutan) terhadap berita-berita tertentu (interactivity).</span></li>
<li><span lang="SV">Kaya informasi. Media online bisa menyiarkan informasi dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan dan sangat pendek. Pengelola media online sangat mungkin meng-upload atau posting informasi terbaru kapan saja dan sebanyak-banyaknya tanpa batasan halaman atau durasi.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Perbedaan Teknis Media Cetak dengan Media Online</strong></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border:1pt solid windowtext;width:100%;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Unsur</strong></p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Media Cetak</strong></p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Media Online</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Pembatasan panjang naskah</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Biasanya panjang naskah telah dibatasi, misalnya 5 – 7   halaman kuarto diketik 2 spasi.</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tidak ada   pembatasan panjang naskah, karena halaman web bisa menampung naskah yang   sepanjang apapun. Namun demi alasan kecepatan akses, keindahan desain dan   alasan-alasan teknis lainnya, perlu dihindarkan penulisan naskah yang terlalu   panjang.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Prosedur naskah</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Naskah biasanya harus di-ACC oleh redaksi sebelum dimuat.</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Sama saja. Namun ada sejumlah media yang memperbolehkan   wartawan di lapangan yang telah dipercaya untuk meng-upload sendiri   tulisan-tulisan mereka.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Editing</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Kalau sudah naik cetak (atau sudah di-film-kan pada proses   percetakan), tak bisa diedit lagi.</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Walaupun sudah online, masih bisa diedit dengan leluasa.   Tapi biasanya, editing hanya mencakup masalah-masalah teknis, seperti   merevisi salah ketik, dan seterusnya.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Tugas desainer atau layouter</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Tiap edisi, desainer atau layouter harus tetap bekerja   untuk menyelesaikan desain pada edisi tersebut.</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Desainer dan   programmer cukup bekerja sekali saja, yakni di awal pembuatan situs web.   Selanjutnya, tugas mereka hanya pada masalah-masalah maintenance atau ketika   perusahaan memutuskan untuk mengubah desain dan sebagainya. Setiap kali   redaksi meng-upload naskah, naskah itu akan langsung “masuk” ke desain secara   otomatis.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Jadwal terbit</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Berkala (harian, mingguan, bulanan, dua mingguan, dan   sebagainya).</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Kapan saja bisa, tidak ada jadwal khusus, kecuali untuk   jenis-jenis tulisan/rubrik tertentu.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Distribusi</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Walau sudah selesai dicetak, media tersebut belum bisa langsung dibaca oleh   khalayak ramai sebelum melalui proses distribusi.</p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;padding:2.25pt;">
<p class="MsoNormal">Begitu di-upload, setiap berita dapat langsung dibaca oleh   semua orang di seluruh dunia yang memiliki akses internet.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.6pt;text-align:justify;"><em><span lang="SV">Sumber: </span><a href="http://jonru.multiply.com/"><span lang="SV">http://jonru.multiply.com</span></a></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.6pt;text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="SV">Tantangan pengusaan teknologi bagi jurnalis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV">Melihat perkembangan dan arah persaingan media online saat ini, maka jurnalis ditantang untuk menguasai teknologi. Karena melihat persaingan media online saat ini, tidak tertutup kemungkinan beberapa tahun ke depan mereka akan bermetamorfosis menjadi jurnalis media online. Setidaknya jurnalis harus akran dengan teknologi internet, sehingga tidak gagap ketika berubah menjadi jurnalis online. Begitu juga perangkat pendukung lainnya, seperti teknologi ponsel yang bisa mendukung aktivitas jurnalisme online. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.6pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Seorang jurnalis media online hendaknya juga menguasai dasar-dasar HTML. Tidak harus terlalu mendalam, cukup yang umum. Minimal, mereka harus mengetahui bagaimana cara membuat huruf tebal, huruf miring, menempatkan gambar di dalam naskah, membuat hyperlink, dan beberapa pengetahuan HTML mendasar lainnya. Ini akan sangat membantu mereka dalam pembuatan tulisan yang sesuai dengan sifat-sifat halaman web yang jauh berbeda dengan halaman media cetak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.6pt;text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="SV">Perkembangan online journalism saat ini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Perkembangan media online di Indonesia saat ini cukup pesat. Pemain lama di bisnis media online adalah detik.com. Kemudian muncul beberapa media online yang menjadi pelengkap media cetak yang ada. </span><span lang="IT">Misalnya riaupos.com yang memuat berita-berita di media cetak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Namun kini muncul kesadaran pemilik media untuk mengelola media online sebagai bisnis tersendiri. Revolusi ini terlihat pada kompas.com, yang sebelumnya hanya pelengkap media cetak, namun kini menjadi media mandiri yang ikut melaporkan berita dari detik ke detik. Begitu juga dengan okezone.com milik kelompok Media Nusantara Citra (MNC) dan vivanews.com milik kelompok Grup Bakri yang kini memiliki TVOne.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Di Riau sudah ada beberapa media online yang basis bisnisnya hanya mengelola media online, seperti riauterkini.com, riaubisnis.com, riauinfo.com, riaunews.com, riaumobil.com, dan sebagainya. Melihat fenomena ini, maka bisa disumpulkan bahwa gairah jurnalisme online tidak hanya di Jakarta, tapi sudah merambah ke daerah-daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Bahkan saat ini banyak blog yang dikelola dengan konsep jurnalisme online. Fenomena ini lekat dengan adanya ”Citizen Journalism” (akan dibahas pada pertemuan berikutnya) di mana semua orang bisa menjadi jurnalis. Di dunia maya, kini dengan mudah kita temui berita-berita yang mungkin tidak kita temukan di media cetak. Maka melihat perkembangan ini, anda harus siap-siap masuk ke dalam ranah online journalism.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IT">Tugas untuk mahasiswa (kelompok 8):</span></strong></p>
<ul>
<li><span lang="IT">Ambil </span><span lang="SV">intisari tulisan ini kem</span>udian kembangkan dalam bentuk makalah antara 7-10 halaman spasi 1,5. Cari sumber-sumber tulisan yang relevan.</li>
<li>Carilah 2 kliping berita yang sama dari media onlie (detik.com) dan media cetak. <span lang="SV">Kemudian analisis/ komentari dan bandingkan dengan sudut pandang pembahasan materi ini.</span></li>
<li><span lang="SV">Presentasikan dan diskusikan pada kuliah sesuai jadwal</span></li>
<li><span lang="SV">Makalah serta kliping dan analisis berita media cetak dijilid dan dikumpulkan.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">NB: <em>Mahasiswa yang menjadi audiens wajib membaca tulisan ini sebagai bahan diskusi.</em></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=149&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2008/12/16/online-journalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2008/12/online-jiurnalism1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">online-jiurnalism1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Graphic Design (2)</title>
		<link>http://ruangdosen.wordpress.com/2008/12/11/graphic-design-2/</link>
		<comments>http://ruangdosen.wordpress.com/2008/12/11/graphic-design-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 04:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangdosen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangdosen.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[A. Teori Warna dalam Komputer
1. Definisi warna
Warna dapat didefinisikan secara obyektif/fisik sebagai sifat cahaya yang diapancarkan, atau secara subyektif/psikologis sebagai bagian dari pengalaman indera pengelihatan. Secara obyektif atau fisik, warna dapat diberikan oleh panajang gelombang. Dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang tampak oleh mata merupakan salah satu bentuk pancaran energi yang merupakan bagian yang sempit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=133&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-144" title="colour_wheel1" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2008/12/colour_wheel1.gif?w=191&#038;h=191" alt="colour_wheel1" width="191" height="191" />A. Teori Warna dalam Komputer</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">1. Definisi warna</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Warna dapat didefinisikan secara obyektif/fisik sebagai sifat cahaya yang diapancarkan, atau secara subyektif/psikologis sebagai bagian dari pengalaman indera pengelihatan. Secara obyektif atau fisik, warna dapat diberikan oleh panajang gelombang. Dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang tampak oleh mata merupakan salah satu bentuk pancaran energi yang merupakan bagian yang sempit dari gelombang elektromagnetik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span id="more-133"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">2. Peran warna</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Sebagai bagian dari elemen tata rupa, warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari sebuah karya desain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">3. Tujuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Warna juga digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud dari simbol-simbol tersebut.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">4. Efek Psikologis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kemampuan warna menciptakan impresi, mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda (desain).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">5. Karakter Warna</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hitam</span><span lang="SV">, sebagai warna yang tertua (gelap) dengan sendirinya menjadi lambang untuk sifat kegelapan, bisa juga disebut netral</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Putih</span><span lang="SV">, sebagai warna yang paling terang, melambangkan cahaya, kesucian dan netral</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Abu-abu</span><span lang="SV">, merupakan warna yang paling netral dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Merah</span><span lang="SV">, bersifat menaklukkan, ekspansif (meluas), dominan (berkuasa), aktif dan vital (hidup).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kuning</span><span lang="SV">, dengan sinarnya yang bersifat kurang dalam, merupakan wakil dari hal-hal atau benda yang bersifat cahaya, momentum dan mengesankan sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Biru</span><span lang="SV">, sebagai warna yang menimbulkan kesan dalamnya sesuatu (dediepte), sifat yang tak terhingga dan transenden, disamping itu memiliki sifat tantangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hijau</span><span lang="SV">, mempunyai sifat keseimbangan dan selaras, membangkitkan ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">6. Psikologis warna</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> <img class="aligncenter size-full wp-image-135" title="warna" src="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2008/12/warna.jpg?w=505&#038;h=547" alt="warna" width="505" height="547" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">7. Istilah warna</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hue</span><span lang="SV">, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, hijau dsb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="PT-BR">Value</span><span lang="PT-BR">, adalah dimensi kedua atau mengenai terang gelapnya warna. </span>Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Intensity</span>, seringkali disebut dengan chroma, adalah dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>8. Sistem warna dalam komputer</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sistem warna yang banyak dipergunakan dalam industri media visual cetak adalah CMYK atau Process Color System yang membagi warna dasarnya menjadi Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Sedangkan RGB Color System dipergunakan dalam industri media visual elektronika.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>B. Tipografi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>1. Pengertian</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tipografi merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tipografi merupakan representasi visual dari sebuah bentuk komunikasi verbal dan merupakan properti visual yang pokok dan efektif. Lewat kandungan nilai fungsional dan nilai estetiknya, huruf memiliki potensi untuk menerjemahkan atmosfir-atmosfir yang tersirat dalam sebuah komunikasi verbal yang dituangkan melalui abstraksi bentuk-bentuk visual.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>2. Fungsi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada dasarnya huruf memiliki energi yang dapat mengaktifkan gerak mata. Energi ini dapat dimanfaatkan secara positif apabila dalam penggunaannya senantiasa diperhatikan kaidah-kaidah estetika, kenyamanan keterbacaannya, serta interaksi huruf terhadap ruang dan elemen-elemen visual di sekitarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>3. Anatomi huruf</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setiap bentuk huruf dalam sebuah alfabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan antara huruf ‘m’ dengan ‘p’ atau ‘C’ dengan ‘Q’. Keunikan ini disebabkan oleh cara mata kita melihat korelasi antara komponen visual yang satu dengan yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>4. Jenis jenis huruf</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>a. <span>Serif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf serif memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>b. <span>Egyptian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan adalah kokoh, kuat, kekar dan stabil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>c. <strong>Sans Serif </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer dan efisien.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>d. <strong>Script </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>e. Miscellaneous </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>C. Produksi Desain Grafis</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>1. Tahapan membuat desain grafis</strong></p>
<ul>
<li>Pengumpulan informasi</li>
<li>Analisis</li>
<li>Menyusun tujuan</li>
<li>Pendekatan</li>
<li>Brainstorming</li>
<li>Evaluasi</li>
<li>Penyempurnaan</li>
<li>Implementasi</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>2. Proses pengolahan <span>informasi </span></strong></p>
<ul>
<li><span>Review data dan hasil riset: data dikumpulkan</span></li>
<li><span lang="IT">Reorganisasi informasi: data dipilah sesuai kelompok</span></li>
<li><span lang="IT">Restate informasi: data dipilih mana yang diperlukan</span></li>
<li><span lang="IT">Readdres Objective Project: pertimbangan rancangan dan data</span></li>
<li><span lang="IT">Reword Objective proyek sebagai kriteria desain</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">3. <span>Ciri-ciri pesan yang jelas</span></span></strong></p>
<ul>
<li><span lang="IT">Objectif yang fokus</span></li>
<li><span lang="IT">Fokus pada penetapan sasaran</span></li>
<li><span lang="IT">Tetapkan harapan</span></li>
<li><span lang="IT">Pesan tunggal</span></li>
</ul>
<p><strong><span lang="IT">4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan desain</span></strong></p>
<ul>
<li><span>Klien: komunikator?</span></li>
<li><span>Audiens: komunikan?</span></li>
<li><span>Pesan?</span></li>
<li><span>Feed back: hasil yang ingin dicapai?</span></li>
<li><span>Reaksi: Motivasi audiens?</span></li>
<li><span>Lingkungan audiens?</span></li>
<li><span>Behavioral: tujuan akhir!</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>5. <span>Pedoman komunikasi yang fokus</span></strong></p>
<ul>
<li><span>Tetapkan hierarkhi informasi</span></li>
<li><span>Tetapkan pesan tunggal</span></li>
<li><span>Harus dapat meyakinkan audiens</span></li>
<li><span>Perhatikan karakter, kepribadian, watak</span></li>
<li><span>Memerhatikan muatan moral</span></li>
<li><span>Ethics</span></li>
<li><span>Politik</span></li>
<li><span>Lifestyle</span></li>
<li><span>Sistem kepercayaan</span></li>
<li><span>Penampilan</span></li>
</ul>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>6. Dalam penyusunan visualisasi sesuaikan dengan elemen-elemen berikut</strong></p>
<ul>
<li>Type</li>
<li>Image</li>
<li>Layout</li>
<li><span lang="SV">Struktur</span></li>
<li><span lang="SV">Paper</span></li>
<li><span lang="SV">Ukuran</span></li>
<li><span lang="SV">Style</span></li>
<li><span lang="SV">Finishing</span></li>
</ul>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV"><strong>Diolah dari berbagai sumber</strong><br />
</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangdosen.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangdosen.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangdosen.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangdosen.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangdosen.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangdosen.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangdosen.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangdosen.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangdosen.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangdosen.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangdosen.wordpress.com&blog=4742097&post=133&subd=ruangdosen&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangdosen.wordpress.com/2008/12/11/graphic-design-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb0e165afb055524e5435c8a9356130b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangdosen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2008/12/colour_wheel1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">colour_wheel1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangdosen.files.wordpress.com/2008/12/warna.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">warna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>