Skip to content

Jurnalisme Pembangunan

Oktober 11, 2008

Oleh M Badri

Jurnalisme pembangunan (journalism of development) adalah jurnalisme yang bertujuan untuk memberikan pemahaman dan menyadarkan masyakarat tentang pembangunan. Di sini jurnalis berusaha meyakinkan masyarakat akan masa depan, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam pembangunan.

Jurnalisme pembangunan atau sering disebut “pers pembangunan” dalam praktiknya mengutamakan peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya dengan tujuan untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik.

Konsep jurnalisme pembangunan ini mulai diperkenalkan, berawal dari pemikiran bagaimana menemukan rumusan atau model komunikasi yang cepat, murah, dan massal bagi tujuan pembangunan. Lahirnya konsep ini banyak didorong para praktisi yang berlatar belakang wartawan dengan memanfaatkan potensi media komunikasi dalam kegiatan pembangunan melalui kebijakan pemberitaan yang mendukung peliputan pembangunan.

Jurnalisme Pembangunan lahir dari institut pers yang diprakrasi Juan Mercado, salah seorang direktur Philipine Press Institute. Tepatnya ketika Press Foundation of Asia menyelenggarakan Kursus Latihan Penulis Ekonomi se-Asia yang pertama di Manila pada tahun 1968, yang mencerminkan penekanan ganda dari jurnalisme pembangunan, yaitu:

  • Pembangunan ekonomi di Asia
  • Teknik penulisan yang jelas

Di Indonesia, pada era pemerintahan orde baru, Departmen Penerangan tampil sebagai juru bicara pemerintah. Melalui Departemen Penerrangan kemudian dikenal istilah Koran Masuk Desa, acara Siaran Pedesaan di RRI, siaran Dari Desa ke Desa di TVRI dan sebagainya. Pada masa itu, istilah ini angat populer hingga pelosok desa, dan merupakan progra pembangunan yang dilakukan pemerintah secara sepihak, serempak dan seragam.

Bagi pemerintah, program-program tersebut bertujuan: mempromosikan, menyebarkan, membujuk, mendukung dan meyakinkan masyarakat terhadap berbagai rencna program, implementasi, ataupun dampak (manfaat) pembangunan, baik yang telah, sedang, maupun yang akan dilaksanakan bagi masyarakat luas, khususnya di desa.

Peliputan jurnalisme pembangunan mengutamakan proses daripada peristiwa. Bahkan penekanan dalam berita pembangunan bukanlah pada kejadian yang terjadi pada waktu atau hari tertentu, melainkan pada apa yang berlangsung semasa periode tertentu. Seorang jurnalis pembangunan memandang kepada proses pembangunan tersebut, berhenti sesaat, dan menoleh ke belakang serta melihat ke depan untuk menyampaikan kepada khalayak, proses perubahan sosial dan ekonomi yang bersifat berkesinambungan dan berjangka panjang.

Dengan pendekatan ini, berita pembangunan berbeda secara signifikan dengan yang selama ini disebut spot news dan action news. Idealnya jurnalisme pembangunan mendekati isu pembangunan pada tingkat makro dan mikro, dan dapat berbeda bentuknya pada level nasional dan internasional. Dalam meliput berita, jurnalis pembangunan secara kritis mengkaji, mengevaluasi, dan memberitakan:

  • Perbedaan antara rencana program dengan yang diimplementasikan.
  • Perbedaan antara dampaknya terhadap masyarakat seperti yang diklaim oleh pemerintah dan yang sebenarnya.
  • Relevansi suatu proyek pembangunan dengan kebutuhan nasional, terutama kebutuhan lokal.

Kini program pembangunan tidak hanya dilaksanakan oleh pemerintah. Perusahaan melalui program community development (CD) atau corporate social responsibility (CSR) juga melakukan program pembangunan, terutama di lingkungan sekitarnya. Program pembangunan yang dilakukan juga tidak jauh berbeda dengan pemerintah, sasarannya sektor fisik (infrastruktur) dan non fisik (sumber daya manusia).

Tujuan pembangunan oleh perusahaan ini untuk membentuk citra perusahaan di mata publik. Apalagi pasca reformasi, kesadaran kritis masyarakat “membooming” sehingga mudah reaktif terhadap isu-isu yang tersebar, berkaitan dengan dampak operasional perusahaan. Di sinilah, kemudian perusahaan mulai membina hubungan “mesra” dengan pers, terutama untuk mewartakan pembangunan yang dilakukannya kepada publik. Baik melalui agenda pemberitaan, press release, maupun pariwara.

Institusi lain yang melakukan pembangunan di masyarakat adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal maupun yang berafiliasi dengan LSM luar negeri. Sasarannya lebih banyak ke sektor non fisik (sumber daya manusia), tapi tidak sedikit juga yang membangun sektor fisik (infrastruktur). Dalam praktiknya, tidak semua LSM mengimplementasikan program pembangunan untuk masyarakat. Dalam beberapa kasus, ada juga LSM yang hanya memanfaatkan masyarakat untuk mencari dana pembangunan. Tapi hanya sedikit atau tidak ada yang diimplementasikan. Sehingga masyarakat tetap hidup jauh dari harapan, semakin termarjinalkan dari kehidupan sewajarnya. (Disarikan dari D, Sumadi. 2007. Komunikasi Pembangunan: Pendekatan Terpadu. Simbiosa, Bandung dan sumber-sumber lainnya yang relevan)

Tugas untuk mahasiswa (kelompok 1):

  • Kembangkan tulisan ini dalam bentuk makalah antara 7-10 halaman spasi 1,5. Cari sumber-sumber tulisan yang relevan.
  • Carilah 2 kliping berita dari media cetak (1 media nasional, 1 media lokal), kemudian analisis dan bandingkan dengan sudut pandang pembahasan jurnalisme pembangunan.
  • Presentasikan dan diskusikan pada kuliah Sabtu (18/10/08).
  • Makalah serta kliping dan analisis berita media cetak dijilid dan dikumpulkan.

NB: Mahasiswa yang menjadi audiens wajib membaca tulisan ini sebagai bahan diskusi.

One Comment leave one →
  1. November 30, 2011 8:07 pm

    cukup membantu tugas kuliah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: