Skip to content

Jurnalisme Sensitif Gender

Oktober 19, 2008

Oleh M Badri

Isu gender merupakan isu yang relatif baru bagi masyarakat sehingga seringkali menimbulkan berbagai penafsiran dan tanggapan yang sering kurang tepat tentang gender. Pemahaman mengenai gender menjadi sesuatu yang sangat penting artinya bagi semua kalangan. Terutama pers, dalam menjalankan praktik jurnalisme.

Parwieningrum dalam artikel “Gender dan Permasalahannya” (BKKBN, 2006) mengatakan, melalui pemahaman yang benar mengenai gender diharapkan secara bertahap diskriminasi perlakuan terhadap perempuan dapat diperkecil sehingga perempuan dapat memanfaatkan kesempatan dan peluang yang diberikan untuk berperan lebih besar dalam berbagai aspek kehidupan. Seringkali gender disamaartikan dengan sex, yaitu jenis kelamin laki-laki dan perempuan, sehingga peran dan tanggung jawabnya juga dibedakan sesuai jenis kelamin ini.

Secara lebih jelas perbedaan gender dan sex/jenis kelamin, dijelaskan dalam skema berikut ini:

Jenis kelamin (sex):

  • Tidak dapat diubah
  • Tidak dapat dipertukarkan
  • Berlaku sepanjang zaman
  • Berlaku dimana saja
  • Merupakan kodrat Tuhan
  • Ciptaan Tuhan

Gender:

  • Dapat berubah
  • Dapat dipertukarkan
  • Tergantung waktu
  • Tergantung budaya setempat
  • Bukan merupakan kodrat Tuhan
  • Buatan manusia

Untuk memperjelas konsep sex dan gender dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

No

Karakteristik

Sex

Gender

1

Sumber pembeda

Tuhan

Manusia (masyarakat)

2

Visi, misi

Kebiasaan

Kesetaraan

3

Unsur Pembeda

Biologis (alat reproduksi)

Kebudayaan(tingkah laku)

4.

Sifat

Kodrat,tertentu,tidak dapat

dipertukarkan

Harkat,martabat dapat dipertukarkan

5.

Dampak

Tercipta nilai nilai : Kersempurnaan, kenikmatan

Dll sehingga menguntung

kan kedua belah pihak.

Terciptanya norma-norma/ ketentuan tentang “pantas” atau “tidak pantas” laki-laki pantas menjadi pemimpin perempuan “pantas” dipimpin dll, sering merugikan salah satu pihak, kebetulan adalah perempuan.

6.

Ke-berlaku-an

Sepanjang masa, di mana saja, tidak mengenal pembedaan kelas

Dapat berubah, musiman dan berbeda antara kelas.

Fayumi dkk dalam buku “Keadilan & Kesetaraan Gender-Perspektif Islam” (Depag, 2001) mengartikan Sex adalah perbedaan biologis hormonal dan patologis antara perempuan dan laki laki misalnya laki laki memiliki penis, testis dan sperma, sedangkan perempuan mempunyai vagina, payudara, ovum, dan rahim. Laki laki dan perempuan secara biologis berbeda, dan masing masing mempunyai keterbatasan dan kelebihan biologis tertentu. Perbedaan biologis tersebut bersifat kodrati, atau pemberian Tuhan, dan tak seorangpun dapat mengubahnya.

Sedangkan Gender adalah Seperangkat sikap, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungana masyarakat tempat manusia itu tumbuh dan dibesarkan. Artinya perbedaan sifat, sikap dan perilaku yang dianggap khas perempuan atau khas laki-laki atau yang lebih populer dengan istilah feminitas dan maskulinitas, terutama merupakan hasil belajar seseorang melalui suatu proses sosialisasi yang panjang dilingkungan masyarakat, tempat ia tumbuh dan dibesarkan.

Feminitas dan maskulinitas seseorang bukanlah hal yang kodrati, melainkan dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ketempat lain. Kesimpulannya, gender adalah suatu konsep yang mengacu pada peran- peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat diubah sesuai dengan perubahan zaman.

Karena perbincangan gender memasuki wilayah pemiliran yang sangat lluas, maka bidang kajiannya juga lintas studi, termasuk studi komunikasi. Salah satu bidang komunikasi yang banyak mendapat sorotan adalah komunikasi massa. Arifin dalam artikel “Wajah Perempuan dalam Media Massa” (Mediator, 2001) mengatakan, dalam media massa perempuan masih dianggap objek dari sebuah mesin operasional media massa. perempuan cenderung menjadi objek fetish, objek peneguhan pola kerja patriarki, objek seksis, objek pelecehan dan kekerasan. Objek yang gambarnya bisa berupa nilai, pilihan, maupun sikap yang tidak merefkeksikan masalah-masalah nyata yang dialami perempuan, yang sekaligus menunjukkan adanya kemandirian sikap, serta pengangkatan optimalisasi kualitas intelektual peran perempuan di dalamnya.

Jurnalisme yang sensitif gender

Ashadi Siregar dalam makalah “Kesetaraan Gender dan Kapitalisme Media” (KIPPAS, 2001) menyebutkan, media massa dapat menjadi reflektor dari ketidak-adilan gender yang dalam masyarakt karena mengambil fakta sosial tanpa disertai perspektif. Komodifikasi perempuan dapat berlangsung di ruang publik, dari sini fakta diangkat sebagai informasi media. Komodifikasi perempuan di ruang publik pada dasarnya merupakan bentuk ketidak-adilan struktural.

Jurnalis memandang fakta dapat dijadikan sebagai komoditas informasi media. Dengan kata lain, fakta perempuan sebagai komoditas di ruang publik, diangkat sebagai sebagai komoditas media, sehingga media bukan hanya merefleksikan, tetapi telah mereplika fakta tersebut. Sebagai replikator, media menggandakan ketidak-adilan struktural, sebab komodifikas perempuan berlangsung dua tahap, pertama pada saat menjadi fakta sosial dan kedua setelah menjadi fakta media (informasi). Ini terjadi dengan pengambilan detail dari fakta dalam kerangka alam pikiran patriarkhi. Penampilan fitur bagian tubuh perempuan untuk tujuan kesenangan laki-laki misalnya, dapat disebut sebagai eksploitasi perempuan dalam kerangka patriarkhi.

Komodifikasi media juga muncul melalui pilihan kata yang mencerminkan alam pikiran media (dalam hal ini jurnalis). Kata yang mendeskripsikan fakta secara lugas (denotatif) akan menjadikan bahasa mewakili fakta. Tetapi pilihan kata dapat bersifat konotatif pada saat mengungkapkan fakta, dapat dikenali sebagai alam pikiran patrarkhi dari media. Dengan demikian bahasa bukan mewakili fakta, tetapi mewakili alam pikiran patrarkhi dari media.

Yasraf A. Piliang dalam makalah “Gender Horrography: Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Pemberitaan Pers” (KIPPAS, 2002) menjelaskan, di dalam media—termasuk media pers—ideologi beroperasi pada tingkat bahasa, baik ‘bahasa tulisan’ maupun ‘bahasa visual’. Ideologi pada tingkat bahasa atau linguistik melibatkan 1) pilihan (choices) kata-kata, kosa-kata, sintaks, gramar, cara pengungkapan, pada tingkat paradigmatik (perbendaharaan bahasa), dan 2) tingkat seleksi (selection) yaitu penentuan kata atau bahasa berdasarkan pada berbagai pertimbangan ideologis. Mengapa, misalnya, memilih kata ‘ternoda’ (keperawanannya) untuk menjelaskan kondisi seorang perempuan korban perkosaan, bukan kata ‘teraniaya’ (kemanusiaannya). Mengapa ‘keperawanan’ menjadi sebuah ukuran (buat laki-laki) dalam menilai harkat perempuan. Dalam hal ini, kata ‘ternoda’ dan ‘keperawanan’ sangat sarat dengan muatan ideologi ‘patriarki’.

Di dalam konsep ideologi visual, bagaimana sebuah gambar (foto, ilustrasi, skema)—khususnya pilihan gambarnya, cara pengaturan posisinya, sudut pengambilan fotonya, cara penempatan ilustrasinya, proses croppingnya, dapat dilihat sebagai sebuah bentuk khusus ideologi—ideologi visual. Dalam berbagai kasus ‘pembersihan’ tempat-tempat pelacuran, misalnya, mengapa gambar-gambar perempuan (disebut secara sosial dan ideologis sebagai ‘tuna susila’) yang selalu ditampilkan sebagai pelaku asusila, bukan gambar laki-laki yang ‘berkunjung’ ke tempat-tempat tersebut.

Berdasarkan dua jenis ‘bahasa’ yang beroperasi pada media pemberitaan, yaitu ‘bahasa tulisan’ dan ‘bahasa visual’, maka dalam konteks kekerasan terhadap perempuan dalam pemberitaan media, sesungguhnya juga ada dua bentuk kekerasan yang terjadi di dalamnya, yaitu: 1) ‘kekerasan bahasa’ atau linguistik (language violence), yaitu bagaimana pilihan perbendaharaan kata, kalimat dan kosa-kata mengandung di dalamnya kekerasan dan pemaksaan (ideologis); dan 2) ‘kekerasan visual’ (visual violence), yaitu bagaimana gambar, foto, skema atau ilustrasi di dalam pemberitaan mengandung unsur dan motif-motif kekerasan yang serupa.

Yasraf menyebut ada berbagai ‘ruang’ dalam bahasa (pers)—baik bahasa tulisan (language) maupun visual (visual language)—yang di dalamnya berpeluang besar terjadi kekerasan terhadap bahasa, dan sekaligus kekerasan terhadap perempuan lewat bahasa yang digunakan, yaitu:

Pornografi: Pornografi dengan segala perangkat, media dan bahasanya adalah sebuah praktik sosial yang menggunakan (secara paksa) kode-kode tertentu pada tubuh perempuan, untuk dapat menciptakan teks dan citraan-citraan, yang dapat memproduksi efek-efek psikologis yang merusak pada perempuan sebagai korban”. Pornografi menimbulkan degradasi pada perempuan dengan cara mengeksploitasi ketelanjangan perempuan, nilai tanda dari organ-organnya (body signs), serta posisi seksualnya yang submisif sebagai ‘nilai ekonomi libido’ (libidinal currency)

Ex: “ Saat itulah ES mendekati Ros dan melihat korban dalam keadaan telentang tanpa memakai pakaian hingga timbul birahinya. Melihat pemandangan dan posisi korban yang cukup menggiurkan, ES kemudian membuka celananya dan melakukan perkosaan terhadap Ros (Waspada)

Kata-kata telentang tanpa memakai pakaian dan membuka celananya mempunyai nilai ekonomi libido yang tinggi, lewat kemampuannya menimbulkan rangsangan seksual, dalam rangka menimbulkan daya pikat pembaca serta nilai ekonomis media di baliknya. Selain mengungkapkan ‘ketelanjangan’, kata-kata itu sendiri sudah merupakan sebuah ‘ketelanjangan bahasa’ (naked language) atau ‘kecabulan bahasa’ (language obscenity), sebagaimana yang dimaksud Jean Baudrillard. Tidak ada lagi tabir, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi yang disembunyikan oleh bahasa, semuanya diungkapkan—inilah kecabulan (dan sekaligus kekerasan) informasi.

Pornokitsch: Penggunaan kata-kata (diksi) atau penampilan gambar tertentu di dalam media pers, disadari atau tidak oleh media pers, dapat mengandung sebuah kekerasan simbolik, disebabkan rendahnya ‘standard’ atau ‘selera’ (taste) penulis atau medianya. Pemilihan kata-kata atau gambar sering menjebak penulis pada sifat ‘vulgaritas bahasa’, yang kemudian menggiring pada pendangkalan kualitas estetik serta degradasi kualitas informasi tulisannya, disebabkan adanya penyimpangan atau distorsi informasi.

“Korban yang masih bocah menurut saja dan kesempatan itu langsung dimanfaatkan RS dengan melakukan perbuatan esek-esek. (Riau Pos, 11/07/01)

Metonymy dalam terminologi semiotika berarti substitusi tanda menggantikan tanda lainnya, untuk mengungkapkan sebuah makna, atau penggunaan sebuah tanda untuk menjelaskan makna yang lebih luas (bagian/part untuk mewakili keseluruhan/whole). Di samping sebagai sebuah eufemisme, kata esek-esek adalah sebuah metonymy, yang digunakan untuk ‘merepresentasikan’ sebuah proses ‘persetubuhan’ (tepatnya perkosaan) secara totalitas. Akan tetapi, esek-esek adalah sebuah metonymy yang murahan, disebabkan di dalam proses persetubuhan yang normal sama sekali tidak ada proses yang disebut ‘(g)esek-(g)esek’. Metonymy digunakan secara vulgar pada tulisan di atas, yang sekali lagi menempatkan perempuan dalam posisi ‘obyek’, layaknya sebuah kursi yang tak berjiwa. Teks berikut adalah contoh lain dari kitsch, yang berasal dari penggunaan metafora yang tidak tepat (deviance).

Fetisisme seksual (sexual fetishism): Fetisisme (fetishism) adalah sebuah kondisi, yang di dalamnya sebuah obyek mempunyai makna yang tidak sesuai dengan realitas yang sesungguhnya. Di dalam konteks media, penekanan pemberitaan mengenai obyek-obyek tertentu dari seorang perempuan korban (fetish object), seperti ‘betisnya yang mulus’, ‘pahanya yang putih’, ‘payudaranya yang montok’, ‘celana dalam hitam’, ‘BH putih’ atau ‘roknya yang tersingkap’ dapat mendorong ke arah fetisisme, yaitu memunculkan daya pesona, rangsangan, lewat fantasi-fantasi yang dikembangkan berkaitan dengan benda-benda tersebut. Fetisisme semacam ini mengandung unsur kekerasan simbolik di dalamnya, disebabkan ada ‘pemaksaan yang halus’ dengan memposisikan organ-organ tubuh perempuan atau benda-benda yang berkaitan dengannya sebagai ‘obyek fetis’, sebagai obyek-obyek untuk kepuasan laki-laki.

Ex: “Dengan ditemani kedua orang tuanya, Ros yang berparas cantik dan berkulit putih serta mengenakan T-Shirt dan celana panjang putih dan baru tamat SD itu hanya menganggukkan kepalanya ketika ditanya Waspada di Mapolsekta Medan Teladan Senin (Waspada, 9/7/01)

Paras cantik, kulit putih, T-Shirt dan celana panjang putih adalah obyek-obyek fetis, yang ketika ditonjolkan di dalam sebuah berita pers menjadi sebuah kendaraan yang mudah bagi berkembangnya kekerasan simbolik berupa pemaksaan ‘obyektifikasi perempuan’, dan memperkokoh ‘subyektifikasi laki-laki’ sebagaimana yang dikatakan Bracher.

Seksisme simbolik: Seksisme (sexism) adalah diskriminasi yang berlatarbelakang seks, yang di dalamnya perbedaan seks dianggap relevan pada konteks-konteks yang sesungguhnya tidak relevan. Seksisme adalah bangun keyakinan yang secara sistematis mendistorsi pengetahuan tentang perempuan, sehingga merendahkan martabat dan merugikan eksistensinya sebagai manusia.

Ex: “ Di tempat itulah Lina kembali dikerjain Togap, hingga ia puas melampiaskan nafsunya” (Riau Pos, 4/7/01)

Kata melampiaskan pada tingkat konotasi (connotative meaning) mengandung di dalamnya makna perempuan sebagai makhluk yang sangat lemah, rentan, tidak berdaya, tidak kuasa, sehingga layak dijadikan sebagai obyek pelampiasan hasrat. Kalimat ini akan bermakna konotatif sama dengan kalimat “Togap melampiaskan kemarahannya dengan membanting kursi”. Kursi sebagai sebuah benda mati, tak berdaya. Perempuan di sini digambarkan—seperti sebuah kursi—sebagai sebuah ‘obyek’ yang sama sekali tidak mempunyai hasrat, perlawanan atau kekuatan. Dengan demikian, makna konotatif dari kalimat ini adalah naturalisasi ideologi ‘subyektifikasi laki-laki’ di dalam masyarakat patriarki.

Voyeurism: ‘Voyeurisme’ adalah kesenangan yang diperoleh ketika melihat obyek hasrat atau organ tubuh tertentu. Voyeurisme menciptakan sebuah ‘ruang bahasa’, yang di dalamnya terbentuk sebuah relasi melihat/dilihat, gazing/gazed, seeing/seen. Voyeurisme menjadi sebuah bentuk kekerasan simbolik, ketika terjadi pemaksaan dalam relasi melihat/dilihat tersebut, yaitu pemaksaan posisi perempuan sebagai ‘obyek yang dilihat’ (seen) dan laki-laki sebagai subyek yang melihat’ (seeing).

Ex: “Pemerkosaan terhadap bocah cilik ini dilakukan terdakwa karena diduga dia terpengaruh film porno yang sering ditonton. Selain itu ada hal lain yang dari perbuatan pelaku saat melihat korbannya pulang sekolah dan hanya mengenakan celana pendek”, (Jambi Independence, 20/7/01)

Dengan berbagai muatan kekerasan simboliknya, media pers dapat menjadi media ‘pembelajaran’ bagi masyarakat, yaitu sebagai sumber informasi mengenai berbagai bentuk ‘abnormalitas’ dalam seksualitas, yang mungkin tidak diketahui sebelumnya. Salah satu bentuk abnormalitas tersebut adalah ‘scopofilia dengan paksaan’ (scopophilia by force), yaitu seseorang atau kelompok orang melakukan tindak pemaksaan pada laki-laki dan perempuan untuk memamerkan atau melakukan tindakan seksualitas—seperti persetubuhan—untuk dilihat oleh mereka.

Maria Hartiningsih dalam makalah “Pemberitaan Yang Sensitif Gender: Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi” (KIPPAS, 2007) menyebutkan, penggunaan kata-kata untuk menggambarkan secara detil fisik korban perkosaan yang amat sering digunakan wartawan untuk mengungkapkan fakta, sebenarnya tidak relevan karena memberikan kesan kejahatan yang terjadi itu disorong oleh perempuan (korban) sendiri. Ini terkait dengan mitos bahwa perempuan adalah penggoda dan memiliki sifat jahat dalam dirinya.

Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama karena dianggap “menjual”. Ciri kapitalistik juga tampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan, meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa agar bisa bertahan.

Masalah jurnalisme dan gender:

Ada empat isu penting bahwa media massa sekarang tidak sensitif gender, yaitu:

  • Media massa masih memberi tempat bagi proses legimitasi bias gender, terutama dalam menampilkan representasi perempuan.
  • Dalam aktivitas jurnalisme sedikit sekali kaum perempuan aktif terlibat menjadi pekerja media yang sensitive gender.
  • Kepentingan politik dan ekonomi para pemilik media tunduk kepada industri atau pasar yang memang lebih permisif terhadap jurnalisme yang tidak sensitive gender.
  • Regulasi media yang ada saat ini tidak sensistif gender

Masalah gender di media massa:

  • Penggunaaan kalimat jurnalistik
  • Porsi pemberitaan
  • Porsi pekerja media:

Tugas untuk mahasiswa (kelompok 2):

  • Ambil intisari tulisan ini kemudian kembangkan dalam bentuk makalah antara 7-10 halaman spasi 1,5. Cari sumber-sumber tulisan yang relevan.
  • Carilah 2 kliping berita terkait masalah ini (ex: berita kriminalitas terhadap perempuan) dari media cetak (1 media nasional, 1 media lokal), kemudian analisis/ komentari dan bandingkan dengan sudut pandang pembahasan jurnalisme sensitif gender.
  • Presentasikan dan diskusikan pada kuliah Sabtu (25/10/08).
  • Makalah serta kliping dan analisis berita media cetak dijilid dan dikumpulkan.

NB: Mahasiswa yang menjadi audiens wajib membaca tulisan ini sebagai bahan diskusi.

One Comment leave one →
  1. Santi Indra Astuti permalink
    Januari 11, 2012 7:12 am

    Tulisan Bapak sangat bermanfaat bagi kami. Mohon ijin untuk mengutip ya pak, kebetulan kami di PSW Unisba sedang concern dengan permasalahan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: