Skip to content

Jurnalisme Damai Vs Jurnalisme Perang

Oktober 28, 2008

Oleh M Badri

Jurnalisme damai adalah praktik jurnalistik yang bersandar pada pertanyaan-pertanyaan kritis tentang manfaat aksi-aksi kekerasan dalam sebuah konflik dan tentang hikmah konflik itu sendiri bagi entitas kemanusiaan. Jurnalisme damai pertama kali muncul dalam Kursus Jurnalisme Damai di Taplo Court, Buckinghamshire, Inggris, pada 25 – 29 Agustus 1997. Jurnalisme damai merupakan kritik terhadap “genre” jurnalisme perang yang dikembangkan media-media Barat. Dalam meliput perang di berbagai negara, media-media Barat berpola untuk menempatkan konflik yang terjadi sebagai persoalan “menang-kalah”, “menundukkan-ditundukkan” (Sudibyo, 2006).


Berikut ini beberapa karakteristik jurnalisme damai:

  • Jurnalisme damai melihat perang sebagai sebuah masalah
  • Jurnalisme damai melihat perang sebagai ironi yang tidak seharusnya terjadi
  • Jurnalisme damai lebih mementingkan empati kepada korban daripada liputan konflik yang kontinyu.
  • Jurnalisme damai menonjolkan rekonsiliasi kedua belak pihak
  • Jurnalisme damai mengedepankan harapan dan hasrat untuk berdamai daripada aroma dendam dan kebencian kepada kedua belah pihak.
  • Jurnalisme damai memberitakan konflik apa adanya dan memberikan porsi yang sama kepada semua pihak atau versi yang muncul dalam wacana konflik.
  • Jurnalisme damai mengungkapkan ketidakbenaran kedua belah pihak dan menghindari keperpihakan.
  • Jika perlu, jurnalisme damai menyebutkan nama pelaku kejahatan (evil-doers) di kedua belah pihak, guna mengungkapkan ketikbenaran atau kebohongan masing-masing pihak.

Di sini yang perlu dicatat, pemberitaan media Barat terlalu fokus pada aksi-aksi kekerasan yang mewarnai peperangan, tanpa banyak mengkaji akar konflik, dampak-dampak, serta bagaimana pemecahannya. Jurnalisme perang cenderung mengekspos dan menekankan semnagat untuk bertikai dan bermusuhan di antara pihak-pihak yang sedang berhdap-hadapan. Jurnalisme perang membiarkan aroma dendam dan kebencian menghiasi pemberitaan tentang konflik-konflik yang terjadi.

Ashadi Siregar (2001) mengungkapkan, basis bagi kebebasan pers adalah kualitas ruang publik. Tetapi kualitas ruang publik bukan hanya dilihat dari sifatnya sebagai pasar. Ruang publik merupakan ajang bagi aktivitas manusia dalam konteks politik, hukum, dan budaya. Ruang ini menyediakan fakta yang menjadi bahan informasi pers, sekaligus yang akan menerima informasi tersebut. Dinamika ruang publik bergerak atas acuan nilai bersama, sebagai proses sosial yang normal. Sebaliknya dapat pula ruang publik didominasi oleh proses yang bersifat anomali, tidak dapat dicari pertalian dengan suatu nilai sosial dan makna kultural.

Dengan demikian landasan konseptual untuk kerja profesional jurnalisme perlu dikembangkan dalam 2 level, yaitu yang bersifat teknis (technicalities) dengan mengembangkan proses jurnalisme untuk tujuan obyektivitas dan faktualitas. Ini mencakup konsep nilai informasi, dan metode kerja jurnalisme. Pada level lainnya, konsep jurnalisme perlu lebih jauh merambah ke dalam wilayah Ilmu Sosial, dengan pemahaman terhadap ruang publik. Analisis sosial menjadi landasan dalam melihat fakta yang menjadi informasi jurnalisme.

Inilah yang mendorong dikembangkannya konsep jurnalisme perdamaian (peace journalism) oleh sementara jurnalis yang meliput di Kosovo dan Jalur Gaza. Kebanggaan jurnalis perang (war journalist) yang dapat memenangkan persaingan profesi dengan menyampaikan fakta-fakta manusia saling bunuh, mulai berubah. Besaran (magnitude)sebagal nilai fakta dan jurnalisme konvensional misalnya, menjadikan dramatisasi kekejaman, manakala menceritakan jumlah amunisi yang digunakan atau korban yang jatuh. Dengan konsep ini jurnalis tidak lagi mencari fakta konf1ik, tetapi menumpukan perhatian terhadap tindakan dari satu pihak yang bersifat kemanusiaan terhadap pihak lainnya. Kesadaran ini lahir karena memandang ruang publik telah menjadi ajang konflik yang tidak kunjung reda.

Jurnalisme perdamaian tetap bertumpu pada fakta. Tetapi konsep kelayakan informasi ditempatkan dalam dataran ruang publik yang didominasi anomali. Dalam dataran anomali perhatian ditujukan kepada fakta-fakta yang mengandung nilai humanitarian dan kultural.

Tugas untuk mahasiswa (kelompok 3):

  • Ambil intisari tulisan ini kemudian kembangkan dalam bentuk makalah antara 7-10 halaman spasi 1,5. Cari sumber-sumber tulisan yang relevan.
  • Carilah 2 kliping berita terkait masalah ini (ex: berita konflik) dari media cetak (1 media nasional, 1 media lokal), kemudian analisis/ komentari dan bandingkan dengan sudut pandang pembahasan materi ini.
  • Presentasikan dan diskusikan pada kuliah sesuai jadwal
  • Makalah serta kliping dan analisis berita media cetak dijilid dan dikumpulkan.

NB: Mahasiswa yang menjadi audiens wajib membaca tulisan ini sebagai bahan diskusi.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: