Skip to content

Jurnalisme Investigatif

November 25, 2008

ist2_2829159-investigation_from-istockphotoJurnalisme investigatif disebut Santana (2003) sebagai sebuah faham yang sudah lama muncul di Amerika Serikat pada abad ke-17. Genre ini merasuki media massa di Indonesia kala Orde Baru. Media massa cetak yang pertama kali menggunakannya adalah Harian Indonesia Raya, di bawah asuhan Mochtar Lubis. Kondisi politik dan ekonomi suatu negara amat sangat mempengaruhi kemunculan dan pertumbuhan jurnalisme investigasi.


Secara garis besar, jurnalisme investigatif adalah sebuah metode peliputan untuk menyibak kebenaran kasus atau peristiwa. Wartawan investigasi dituntut agar mampu melihat celah pelanggaran, menelusurinya dengan energi reportase yang besar, membuat hipotesis, menganalisis, dan pada akhirnya menuliskan laporannya.

Jurnalisme investigasi ada ketika terjadi penyimpangan dalam suatu tatanan masyarakat. Pers punya peranan sangat penting untuk dapat menginformasikan peristiwa yang menyimpang itu. Tidak berhenti sampai titik ini, pers juga bisa melangkah jauh mengusut kesalahan, menemukan kebenaran, dan mengadakan perubahan.

Arismunandar (2008) mengatakan bahwa secara sederhana, peliputan investigatif adalah praktik jurnalisme, yang menggunakan metode investigasi dalam mencari informasi. Karakter dari berita investigatif adalah: (1) merupakan produk kerja asli jurnalis bersangkutan, bukan hasil investigasi dari sebuah instansi pemerintah atau nonpemerintah; (2) mengandung informasi yang tidak akan terungkap tanpa usaha si jurnalis; dan (3) berkaitan dengan kepentingan publik.

Mengutip Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, Arismunandar menyebut setidaknya ada tiga bentuk jurnalisme investigatif yang bisa kita bedakan. Yaitu: pelaporan investigatif orisinal, pelaporan investigatif interpretatif, dan pelaporan terhadap investigasi.

1. Pelaporan investigatif orisinal (original investigative reporting):

Pelaporan investigatif orisinal melibatkan reporter itu sendiri dalam mengungkap dan mendokumentasikan berbagai aktivitas subjek, yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik. Ini merupakan bentuk pelaporan investigatif, yang sering berujung pada investigasi publik secara resmi, tentang subjek atau aktivitas yang semula diselidiki dan diungkap oleh jurnalis. Ini adalah contoh klasik, di mana pers mendesak lembaga publik (pemerintah), atas nama publik.

Dalam melakukan investigasi, jurnalis mungkin menggunakan taktik-taktik yang mirip dengan kerja polisi. Seperti, penggunaan tenaga informan, pemeriksaan catatan/data publik, bahkan –dalam situasi tertentu– pemantauan aktivitas dengan sembunyi-sembunyi dan penggunaan penyamaran. Dalam pelaporan investigatif orisinal di era modern sekarang, kekuatan analisis komputer sering menggantikan observasi personal para reporter.

2. Pelaporan investigatif interpretatif (interpretative investigative reporting):

Jenis pelaporan investigatif interpretatif juga menggunakan keterampilan yang sama, seperti pada pelaporan investigatif orisinal, namun menempatkan interpretasi (penafsiran) pada tingkatan yang berbeda.

Perbedaan mendasar antara keduanya adalah, pada pelaporan investigatif orisinal, si jurnalis mengungkapkan informasi, yang belum pernah dikumpulkan oleh pihak lain manapun. Tujuannya adalah memberitahu publik tentang peristiwa atau situasi, yang mungkin akan mempengaruhi kehidupan mereka.

Sedangkan, pelaporan interpretatif berkembang sebagai hasil dari pemikiran dan analisis yang cermat, terhadap gagasan serta pengejaran fakta-fakta yang diikuti, untuk memadukan semua informasi itu dalam konteks yang baru dan lebih lengkap. Dengan cara ini, diharapkan bisa memberi pemahaman yang lebih mendalam pada publik.
Pelaporan interpretatif ini biasanya melibatkan seperangkat fakta dan isu-isu yang lebih kompleks, ketimbang sekadar pengungkapan biasa. Pelaporan interpretatif ini menyajikan cara pandang yang baru terhadap sesuatu, serta informasi baru tentangnya.
3. Pelaporan terhadap investigasi (reporting on investigations):

Pelaporan terhadap investigasi adalah perkembangan terbaru dari jurnalisme investigatif, yang semakin biasa dilakukan. Dalam hal ini, pelaporan berkembang dari temuan awal atau bocoran informasi, dari sebuah penyelidikan resmi yang sudah berlangsung atau yang sedang dipersiapkan oleh pihak lain, biasanya oleh badan-badan pemerintah.

Ahmad Taufik (2007) mencatat bahwa reportase investigatif mulai tumbuh menjadi suatu bibit yang positif biasanya pada negara yang otoriter dan totaliter. Di sana seorang jurnalis berusaha menyingkap hal-hal yang selalu ditutupi oleh penguasa, terutama begitu kuatnya tekanan (pressure) terhadap dunia jurnalistik. Nah, baru berkembang pada saat sang penguasa otoriter tumbang. Biasanya, pada zaman negara dipimpin oleh rezim penguasa yang otoriter atau totaliter, banyak jurnalis yang menjadi korban. Ada yang ditangkap, ada yang dibunuh seperti Udin dari Bernas Yogyakarta. Atau medianya ada yang dibredel, seperti kasus Indonesia Raya mengungkap kebobrokan dan korupsi di Pertamina yang melibatkan Soeharto dan Ibnu Sutowo. Atau seperti TEMPO, yang mencoba menulis secara lengkap soal skandal pembelian kapal perang bekas armada Jerman Timur, yang melibatkan Menteri Riset dan Teknologi, waktu itu B.J. Habibie dengan Soeharto dan Liem Soei Liong.

Tujuan kegiatan jurnalisme investigatif adalah memberi tahu kepada masyarakat adanya pihak-pihak yang telah berbohong dan menutup-tutupi kebenaran. Masyarakat diharapkan menjadi waspada terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan berbagai pihak, setelah mendapatkan bukti-bukti yang dilaporkan. Bukti-bukti itu ditemukan melalui pencarian dari pelbagai sumber dan tipe informasi, penelaahan terhadap dokumen-dokumen yang signifikan, dan pemahaman terhadap data-data statistik.

Dari tujuan tersebut, dapat terlihat adanya tujuan moral yang hendak ditegaskan. Segala apa yang dilakukan wartawan investigatif dimotivasi oleh hasrat untuk mengoreksi keadilan, menujukkan adanya sebuah kesalahan. Bahkan, bila ditelusuri lebih jauh, berbagai definisi jurnalisme investigatif mengamsalkan moralitas wacthdog pers. Upaya memberitahukan kepada masyarakat akan adanya ketidakberesan di sekitar mereka, mempengaruhi masyarakat mengenai situasi yang terjadi.
Nababan (KIPPAS, 2007) menyebutkan, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dikatakan menjadi penyebab mengapa kultur jurnalisme investigatif tidak “bertindak”:

Pertama, keberadaan iklan sudah sama-sama kita mahfumi bersama bahwa sekarang ini kebanyakan media di Indonesia, baik cetak maupun elektronik, berlomba mengejar pemasukan sebesar-besarnya dari iklan. Setidaknya bila dipersentasekan kurang lebih 70% pemasukan media-media itu berasal dari iklan. Dominasi dan “intervensi”iklan begitu kentara dan seakan-akan menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan bagi eksistensi industri pers. Pahitnya bisa dikatakan No Advertisement, No News. Bahkan saking menggiurkannya “kue” iklan ini ada satu media yang khusus menayangkan iklan saja sebagai jualannya, dan jelas hal ini sebenarnya telah melanggar ide-ide dasar sebuah media, di mana media adalah penyampai berita bukan iklan semata.

Artinya, industri pers sekarang benar-benar sudah mengadopsi dan menyerap bulat-bulat prinsip-prinsip kapitalisme, yang bereinkarnasi menjadi kapitalisme media, di mana uang (kapital) adalah tujuan terutama yang hendak diraih dan dicapai. Meminjam istilah Erwinsyah, iklan sekarang adalah tuhan bagi industri pers, iklanlah yang harus dipuja-puja.

Kalau sudah begini jangan harap idealisme murni para insan pers yang ingin menyuarakan kebenaran dan fakta apa adanya kepada publik sebagai pembaca dapat terpenuhi dan tersalukan sebagaimana mestinya. Karena hal ini pasti akan mendapat resistensi dari penanggung jawab redaksi dan owner media yang menganggap liputan investigatif tidak merupakan keharusan (necessity), tidak urgent dan cenderung berisiko besar. Ini dikarenakan liputan investigasi di satu sisi bisa membuat orang yang menjadi objek penyidikan “kebakaran jenggot”, sementara di sisi lain pembaca atau pemirsa merasa mendapatkan informasi terkini yang “terselubung” yang mungkin selama ini tertutupi. Seorang jurnalis Chicago, Finley Peter Dunne, menyebut pekerjaan investigasi sebagai sebuah pekerjaan yang “menyenangkan orang susah dan menyusahkan orang senang”. Karena itu, alih-alih merestuinya, para penanggung jawab redaksi dan owner cenderung akan menolaknya, dan lebih memilih prinsip play safety.

Hal tersebut dilakukan guna memelihara relasi baik yang sudah terjalin sebelumya antara si penanggung jawab redaksi, owner media, mitra kerja dan pemasang iklan. Tidaklah heran apabila kita melihat banyak para jurnalis yang semula begitu idealis dan kritis dalam menjalankan profesinya, tiba-tiba berubah menjadi begitu permisif (taken for granted), pragmatis dan cenderung suka menempuh jalur singkat (short cut).

Kedua, kesejahteraan pekerja pers. Rendahnya tingkat kesejahteraan para pekerja pers juga menjadi penyebab mengapa para pekerja pers tersebut enggan terjun sebagai jurnalis investigatif. Memang benar masalah kesejahteraan bukan hanya domain industri pers semata. Namun bagaimana mungkin dengan pendapatan yang rata-rata masih di bawah UMR tersebut, seorang jurnalis merasa tertarik menjadi seorang jurnalis investigatif, yang notabene penuh dengan risiko. Tentu dengan nominal-nominal yang begitu rendah tersebut sulit bagi mereka untuk tetap menjadi jurnalis yang idealis, kritis, dan independen. Logika sederhananya adalah jika masalah “sejengkal perut” itu tidak bisa teramankan,bisakah kita berpikir dengan tenang? Jangan dulu kita berpikir kritis dan analitis.

Barangkali masalah tingkat kesejahteraan yang rendah inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa para lulusan perguruan tinggi banyak yang enggan menjadi seorang jurnalis. Kalaupun mereka memilih menjadi jurnalis, mereka ujung-ujungnya menjadi jurnalis amplop (wartawan amplop) dikarenakan desakan kebutuhan ekonomi. Bisa saja ini menjadi pro dan kontra dan tidak gampang untuk membuktikannya. Namun hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Ketiga, masalah sumber daya manusia. Ketersediaan sumber daya manusia yang memadai menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pers yang concern terhadap peliputan investigatif. Menjadi seorang jurnalis investigatif (investigator) memerlukan keterampilan dan daya juang yang tinggi untuk dapat menembus berita dengan tingkat kesulitan yang juga tinggi. Perlu dilakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) menyangkut kegigihan, keberanian (nyali), keuletan, ketekunan, kepercayaan diri dan kecerdasan si investigator.

Keempat, masalah komitmen dan support dari penanggung jawab redaksi dan owner media. Dukungan moral dan moril berupa perlindungan hukum dan bantuan finansial dari penanggung jawab redaksi dan owner media sangat diperlukan guna mengembangkan kultur jurnalisme investigatif di kota ini.

Lebih lengkapnya baca buku:

Septiawan Santana K. 2003. Jurnalisme Investigasi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Tugas untuk mahasiswa (kelompok 6):

  • Ambil intisari tulisan ini kemudian kembangkan dalam bentuk makalah antara 7-10 halaman spasi 1,5. Cari sumber-sumber tulisan yang relevan.
  • Carilah 2 kliping berita terkait masalah ini (ex: berita politik, berita kriminal, berita skandal korupsi, dll) dari media cetak (1 media nasional, 1 media lokal), kemudian analisis/ komentari dan bandingkan dengan sudut pandang pembahasan materi ini.
  • Presentasikan dan diskusikan pada kuliah sesuai jadwal
  • Makalah serta kliping dan analisis berita media cetak dijilid dan dikumpulkan.

NB: Mahasiswa yang menjadi audiens wajib membaca tulisan ini sebagai bahan diskusi.

One Comment leave one →
  1. nana permalink
    Maret 24, 2011 10:26 am

    i like it!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: