Skip to content

Buku Jurnalisme Siber

September 7, 2013

sampul

 

Judul : Jurnalisme Siber
Penulis : M Badri, MSi
Penerbit : Creative
ISBN : 978-602-17924-1-4
Tebal : x+150

Nukilan

Internet telah diakui mengubah wajah dunia karena mampu membawa kita pada era globalisasi dalam arti yang sebenarnya. Sebab internet memudarkan sekat-sekat geografis dan menghilangkan sekat waktu. Di mana dan kapan pun, asal kita terhubung ke internet, kita dapat bekerja, berkomunikasi, berinteraksi, menciptakan dan menyebarkan data, informasi, dan pengetahuan dengan sangat cepat.

Kondisi ini sebelumnya sudah diramalkan Marshall McLuhan saat memperkenalkan global village pada awal tahun 1960-an. Global village menjelaskan bahwa tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat. McLuhan meramalkan pada saatnya nanti, manusia akan sangat tergantung pada teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi.

Hal tersebut saat ini sedang terjadi dan menciptakan euforia berkomunikasi. Saat ketergantungan manusia terhadap teknologi juga diikuti perkembangan media komunikasi. Dimana mendekati tahun 2000 teknologi informasi (TI) menjadi tren. Seiring perkembangan dan penetrasi TI tersebut di masyarakat, muncul pula visi dan budaya dalam menggunakan TI. Individu atau lembaga mulai menyerap internet sebagai tools, sebagai media komunikasi karena murah dan bisa menjangkau dunia global. Faktor TI yang memiliki sejumlah kelebihan seperti kecepatan, kemudahan atau kepraktisan, dapat menembus batas ruang dan waktu, membuat berbagai kemudahan hampir di semua bidang kehidupan manusia saat ini (Haryati, 2007).

Sudah hampir seperempat abad masyarakat dunia menggunakan internet. Setiap tahun ada 200 juta penduduk yang bergabung dalam revolusi online. Menurut Google, internet menjadi media komunikasi yang pertumbuhannya paling cepat dalam sejarah. Ketika internet masuk ke publik pada 1983 hanya ada 400 server. Tapi saat ini sudah melebihi 600 juta server (Smith, 2009).

Berdasarkan data statistik pengguna internet, per 30 Juni 2012 jumlah pengguna internet dunia mencapai 2,4 milyar lebih dengan penetrasi mencapai 34,3 persen penduduk dunia. Data per 30 Juni 2012 juga menyebutkan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta orang. Padahal pada tahun 2000 lalu masih berjumlah 2 juta pengguna.

Kini, internet memiliki daya tarik tersendiri bagi kemudahan suatu akses media. Bahkan lewat internet banyak orang mampu menciptakan berbagai bentuk wajah media yang dapat menciptakan suatu kesenangan dan ketergantungan. Realitas pertumbuhan pengguna internet inilah yang kemudian melahirkan jurnalisme baru yang disebut: jurnalisme siber (cyber journalism) atau jurnalisme daring ‘dalam jaringan’ (online journalism). Kehadiran jurnalisme siber otomatis akan mengubah pola kerja jurnalis dan interaksi media dengan khalayak. Dalam buku ini, saya akan menggunakan banyak istilah, baik siber, cyber, daring atau online dengan merujuk pada maksud yang sama.

Online sendiri merupakan bahasa internet yang berarti informasi dapat diakses di mana saja dan kapan saja selama ada jaringan internet. Jurnalisme online ini merupakan perubahan baru dalam ilmu jurnalistik. Laporan jurnalistik dengan menggunakan teknologi internet, disebut dengan media online, yang menyajikan informasi dengan cepat dan mudah diakses di mana saja. Dengan kata lain, berita detik ini bisa dibaca saat ini juga, di belahan bumi mana saja.

Jurnalisme online memiliki banyak kelebihan dibandingkan jurnalisme cetak. Selain lebih interaktif, dalam hal kecepatan jurnalisme online jauh lebih unggul. Beberapa kekuatan atau potensi jurnalisme online sebagai informasi utama bagi masyarakat, antara lain: pertama, audiens bisa lebih leluasa dalam memilih berita yang ingin didapatkannya (audience control). Kedua, setiap berita yang disampaikan dapat berdiri sendiri (nonlinearity). Ketiga, berita tersimpan dan bisa diakses kembali dengan mudah oleh masyarakat (storage and retrieval). Keempat, jumlah berita yang disampaikan menjadi jauh lebih lengkap (unlimited space). Kelima, informasi dapat disampaikan secara cepat dan langsung kepada masyarakat (immediacy). Keenam, redaksi bisa menyertakan teks, suara, gambar, animasi, foto, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh masyarakat (multimedia capability). Ketujuh, memungkinkan adanya interaksi (interactivity).

Sebuah riset di Kanada menceritakan bahwa masyarakat terus meningkatkan  penerimaan berita dari berbagai platform. Lebih dari seperempat konsumen berita mendapatkannya dari empat platform: TV, radio, surat kabar dan online. Sepertiga dari mereka sedikitnya menggunakan tiga media (Hambleton, 2009).

Kondisi tersebut juga terjadi di banyak negara, bahkan di Amerika Serikat kehadiran media online telah “membunuh” banyak media cetak. Antara lain Rocky Mountain News, surat kabar di Colorado yang sudah berumur 150 tahun memutuskan untuk tutup pada 27 Februari 2009. Kemudian Harian The Seattle Post-Intelligencer menerbitkan edisi cetak terakhir pada 17 Maret 2009. Sedangkan Gannett, penerbit koran terbesar di Amerika Serikat dan perusahaan induk dari USA Today, memecat lebih dari 600 karyawannya. The New York Times, bahkan telah melakukan pemecatan sejak 2008. Hingga kini banyak surat kabar di Amerika Serikat yang berjuang agar tetap terbit setelah kehilangan pembaca yang bermigrasi ke dunia maya. Bahkan majalah setenar Newsweek telah menghentikan edisi cetaknya pada 31 Desember 2012.

Keberadaan jurnalisme online hingga kini semakin diakui oleh publik. Bahkan pada tahun 2010 ajang penghargaan tahunan jurnalisme Pulitzer, untuk pertama kalinya memberikan penghargaan kepada media online. ProPublica.com, organisasi online non-profit, memenangkan penghargaan Pulitzer atas laporan investigasinya mengenai Rumah Sakit New Orleans setelah bencana badai Katrina yang menerjang Amerika beberapa waktu sebelumnya. Sedangkan penghargaan editorial kartun diraih oleh situs berita SFGate.com.

Di Indonesia sendiri, pertumbuhan media online juga sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun belum sampai membuat tutup media-media cetak terkenal, tapi kehadirannya mampu menghambat pertumbuhan industri media cetak. Media cetak yang tidak mau kehilangan pembaca, juga mulai bermigrasi ke online meskipun tidak secara total.

Perkembangan jurnalistik media siber di Indonesia dapat dilihat dari bermunculannya situs-situs berita, seperti Detik.com, Okezone.com, Inilah.com, Viva.co.id, Kapanlagi.com dan banyak lagi. Bahkan, koran-koran seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Rakyat Merdeka, juga memperkuat berita cetaknya dengan versi online. Ada pula yang dikelola secara terpisah, mandiri dan profesional, seperti Tempointeraktif.com (Zaenuddin, 2011).

Menurut Lilik HS (2013) pada awal 2000-an, perusahaan dotcom atau media daring mulai berkembang di Indonesia. Seperti Detik.com berkembang pesat sejak beroperasi pada 1998, diikuti Satunet.com dan Astaga.com setahun berikutnya. Harian Kompas dan Suara Pembaruan juga membangun portal daring. Di pasar e-commerce, muncul Sanur Online Bookstore dan Bhineka.com, toko komputer terlaris di Indonesia. Sayangnya ada yang gagal di antara masa keemasan itu. Astaga.com barangkali fenomena cukup menarik. Portal ini didukung pemodal asing. Jonathan Morris, CEO pertama Astaga.com menanamkam modal sebesar lebih dari Rp 56 milyar, menggebrak dengan promosi fantastis. Tapi Astaga.com gulung tikar.

Ke depan jurnalisme siber diperkirakan akan semakin berkem-bang dengan pesat, seiring semakin meningkatnya teknologi internet dan terus tumbuhnya pengguna internet. Termasuk di Indonesia. Tak heran kalau raksasa siber sekelas Yahoo!, sejak tahun 2009 lalu mengubah wajah beranda Yahoo! Indonesia dengan konten-konten berita yang sebagian besar disuplai oleh sejumlah media siber di Indonesia.

Pontus Sonnerstedt, manajer Yahoo! Southeast Asia untuk Indonesia menjelaskan, pertumbuhan bisnis daring di Indonesia akan terus berkembang hingga 10 tahun ke depan. Penetrasi internet di negara ini yang masih rendah dibandingkan Filipina, Malaysia, Singapura, dan Vietnam merupakan salah satu keuntungan. Ini meningkatkan pertumbuhan konten dan jumlah pengguna internet. Pertumbuhan bisnis digital di Indonesia juga diuntungkan dengan populasi Indonesia keempat terbesar di dunia. (*)

DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN

A. Sejarah Jurnalisme

B. Dari Cetak ke Internet

C. Profil Khalayak Siber

D. Menuju Jurnalisme yang Lebih Baik

BAB II: SUDUT PANDANG JURNALISME

A. Pengertian Jurnalisme

B. Fungsi Jurnalisme

C. Jurnalisme dan Masyarakat Era Siber

BAB III: JURNALISME DI RUANG SIBER

A. Ihwal Ruang Siber

B. Ruang Siber Membentuk Budaya Baru

C. Munculnya Jurnalisme Siber

D. Persoalan Etika dalam Jurnalisme Siber

BAB IV: KONVERGENSI TEKNOLOGI MEDIA SIBER

A. Konvergensi Media

B. Keunggulan Jurnalisme Siber

C. Munculnya Media Digital Interaktif

BAB V: INDUSTRI MEDIA SIBER

A. Bisnis Media Siber

B. Pendapatan Media Siber

C. Manajemen Media Siber

D. Pembaca sebagai Aset

BAB VI: WARTAWAN DI ERA JURNALISME SIBER

A. Wartawan Siber

B. Wartawan dan Teknologi Informasi

C. Standar Kompetensi Wartawan

BAB VII: PEMBERITAAN JURNALISME SIBER

A. Memahami Berita

B. Pengumpulan Bahan Berita

C. Menulis Berita

D. Model Pemberitaan 3 W

E. Menulis Feature

BAB VIII: MASA DEPAN JURNALISME SIBER

A. Mengikuti Perkembangan Teknologi

B. Beradaptasi dengan Perubahan Bisnis

C. Melibatkan Jurnalisme Warga

DAFTAR PUSTAKA

Lampiran

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: